Adab dalam Berdoa Kepada Allah Sesuai Sunnah

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Seorang muslim harus memperhatikan syarat dan adab dalam berdoa kepada Allah agar doa dikabulkan.

Berikut ini kami sebutkan tata cara berdoa sesuai sunnah yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca juga: Adab Bertamu

Pengertian Doa

Doa dalam bahasa Arab adalah berasal dari kata دعا – يدعو – دعاء yang artinya adalah menyeru. Adapun secara istilah, doa artinya adalah ungkapan khusus untuk menunjukkan permohonan disertai kerendahan hati. [Al-Mausu’atul Fiqhiyyah 20/256]

Doa adalah ibadah.

Allah taala berkalam, “Dan Pemelihara kalian berkata: Berdoalah kepadaku, pasti aku mengijabahi untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang mereka sombong dari beribadah kepadaku, mereka akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.” [Qs. Ghafir (40) : 60] 

Doa merupakan sesuatu yang sangat powerful. Ketika ia diijabah oleh Allah, hal yang tidak masuk akan manusia bisa saja terjadi.

Makkah adalah daerah tandus yang terletak di tengah padang pasir. Akan tetapi, bila anda jalan-jalan di sana, anda pasti akan menjumpai berbagai macam bebuahan. Barangkali lebih lengkap dan lebih berkualitas dari tempat kita.

Apa sebabnya? Karena doa. Doa Nabi Ibrahim alaihis salam untuknya. Dalam surat Ibrahim, Allah taala menyebutkan doa beliau untuk penduduk Makkah:

وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Dan berikan rezeki kepada mereka dari buah-buahan agar mereka bersyukur.” [Qs. Ibrahim (14) : 37]

Oleh karenanya, bila anda memiliki masalah dalam urusan dunia ataupun akhirat, segeralah panjatkan doa kepada Allah. Niscaya Dia akan memberikan jalan keluar bagi anda.

Tentunya, dengan memperhatikan syarat, adab, dan waktu-waktu mustajab untuk berdoa.

Bentuk Pengabulan Doa

Ketika kita telah memanjatkan doa kepada Allah dalam waktu yang lama dan kita belum mendapat apa yang kita minta, jangan terburu-buru. Jangan kemudian kita mengatakan Allah tidak mengabulkan doa kita.

Ada 3 bentuk pengabulan doa sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Hasan sebagai berikut:

  1. Dikabulkan saat itu juga sebagaimana dia minta
  2. Dituliskan baginya kebaikan sebagai ganti dan untuk tabungan di akhirat
  3. Dikabulkan setelah melewati waktu yang lama. Dalam hal ini, contohnya adalah doa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam agar kiblat yang semula berada di Baitul Maqdis dipindah ke Masjidil Haram.

Syarat untuk Memanjatkan Doa

Ada 3 syarat yang harus diperhatikan agar doa mendapat ijabah dari Allah taala. Berikut ini penjelasannya:

Pertama – Ikhlas kepada Allah

Hal paling penting untuk kita perhatikan adalah memurnikan seruan kita kepada Allah. Terkadang manusia berdoa kepada Allah, tetapi dia juga menggantungkan nasibnya kepada selain Allah.

Doa adalah ibadah. Seperti ibadah yang lain, ia juga memerlukan keikhlasan.

Kedua – Tidak Meminta Keburukan dan Terburu-buru

Berdoa meminta keburukan sangat dilarang dalam Islam. Berdoa untuk memutus hubungan silaturrahmi juga tidak boleh. Berdoa secara terburu-buru juga harus dihindari.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ

“Tidak henti-hentinya diijabahi untuk seorang hamba, selagi dia tidak berdoa dengan keburukan dan memutus silaturrahim serta selagi tidak tergesa-gesa.” [Hr. Muslim]

Mendengar sabda beliau itu, ada seorang sahabat yang bertanya tentang maksud tergesa-gesa. Beliau pun menjelaskan:

يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Dia (hamba) mengatakan: Aku sudah berdoa dan aku telah berdoa, lalu aku tidak melihat ijabah untukku. Lalu dia putus asa ketika itu dan meninggalkan doa. [Hr. Muslim]

Mengenai doa keburukan, dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas diri-diri kalian. Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas anak-anak kalian. Dan janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas harta-harta kalian. Tidaklah kalian mencocoki suatu waktu dari Allah yang Dia diminta padanya akan suatu permintaan, maka Dia mengabulkan untuk kalian.” [Hr. Muslim]

Ketiga – Menghayati Doa dan Yakin Terijabah

Seringkali karena kebiasaan, kita berdoa dengan cara semau kita yang dalam bahasa jawanya disebut sak-sak’e. Mulut mengucap, tapi hati tidak hadir. Cara seperti ini salah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه 

Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin dengan ijabah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan suatu doa (yang muncul) dari hati yang lalai dan bermain-main. 

Adab dalam Berdoa agar Dikabulkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana adab berdoa kepada Allah taala sejak 14 abad yang lalu.

Berikut saya sebutkan tuntunan beliau:

1. Mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat

Berikut ini merupakan cuplikan dari cerita ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu mengenai peristiwa Badr:

فَاسْتَقْبَلَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ

“Maka Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah kiblat kemudian mengangkat tangan beliau lalu beliau berdoa kepada Pemeliharanya.” [Hr. Muslim]

Ketika menjelaskan hadits ini, An-Nawawi berkata: “Dan padanya ada (dalil) disukainya menghadap kiblat ketika berdoa dan mengangkat tangan padanya.” [Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim 6/213]

Ketika mengangkat tangan sebagai adab dalam berdoa ini, kita menghadapkan perut telapak tangan ke atas, bukan punggungnya. Malik bin Yasar radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

“Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan perut-perut telapak tangan kalian dan janganlah kalian meminta kepada-Nya dengan punggung-punggungnya.” [Hr. Abu Dawud]

Selain itu, Al-‘Utsaimin juga menjelaskan bahwa sunah mengangkat tangan adalah dengan menggadengkannya, bukan memisah antara dua tangan. Beliau berkata: “Adapun perbuatan memisah dan menjauhkan di antara keduanya, saya tidak mengetahui adanya dalil baginya. Tidak ada pada As-Sunnah dan tidak pula pada perkataan ulama.” [Asy-Syarhul Mumti’ 4/18]

2. Memulai dengan Hamdalah dan Shalawat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Fadlalah bin ‘Ubaid, ada seorang sahabat yang shalat, kemudian setelah selesai langsung berdoa kepada Allah.

Melihat itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur dan bersabda:

عجلت أيها المصلي إذا صليت فقعدت فاحمد الله بما هو أهله وصل علي ثم ادعه

“Engkau tergesa-gesa wahai orang yang shalat. Apabila engkau shalat, lalu duduk, maka pujilah Allah yang pujian itu adalah hak-Nya dan bershalawatlah atasku, kemudian berdoalah kepada-Nya.” [Hr. At-Tirmidzi]

Dan ketika ada orang lain yang juga shalat, kemudian dia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا المُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

“Wahai orang yang (selesai) shalat. Berdoalah niscaya diijabahi.” [Hr. At-Tirmidzi]

3. Suara yang Lembut

Termasuk dari adab dalam berdoa adalah melembutkan suara. Menjadikan suara berada di antara suara keras dan suara lirih. Allah taala berkalam:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Serulah oleh kalian akan Pemelihara kalian dengan rendah diri dan suara yang lirih. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Qs. Al-A’raf (7) : 55]

Sangat disayangkan sekali ketika seseorang berdoa, tetapi diiringi musik jingkrak-jingkrak. Tidak sesuai adab!

4. Ketika akan Mendoakan Kebaikan untuk Orang Lain, Memulai dengan Diri Sendiri

Ubay bin Kaab radliyallahu ‘anhu berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا ذكر أحدا فدعا له بدأ بنفسه

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengingat seseorang lalu beliau akan mendoakan kebaikan untuknya, beliau memulai dengan diri beliau sendiri.” [Hr. At-Tirmidzi]

5. Bersungguh-Sungguh

Adab berdoa terakhir adalah kesungguhan dalam berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ ، وَلاَ يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam permintaan. Dan janganlah dia berkata: Ya Allah, jika Engkau berkehendak, maka berilah aku. Sesungguhnya tidak ada seorang pemaksa untuk-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Dalam kondisi ini, jadilah seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Bagaimana cara agar orang tuanya mengabulkan permintaan anak itu?

Ya, benar! Anak itu merengek-rengek. Bersungguh-sungguh. Bahkan terkadang juga menangis karena kesungguhannya.

Waktu-Waktu Mustajab untuk Berdoa

Selain memperhatikan tentang tata cara dalam berdoa, kita juga perlu memperhatikan waktu-waktu terbaik dimana doa pada waktu waktu itu lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan.

1. Sepertiga Malam Terakhir

Ini adalah waktu terbaik yang dapat kita gunakan untuk berdoa. Doa pada waktu ini lebih besar kemungkinannya untuk diijabahi oleh Allah.

Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allah taala turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam yang terakhir, kemudian berkalam:

مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Siapa yang akan berdoa kepadaKu, maka Aku ijabah untuknya? Siapa yang akan meminta kepadaKu, maka Aku beri kepadanya? Siapa yang akan istighfar kepadaKu, lalu Aku ampuni untuknya?” [Muttafaqun alaih]

Lalu, kapankah sepertiga malam yang terakhir itu?

Apabila kita hitung bahwa waktu malam dimulai dari jam 06.00 sore dan fajar jam 04.00 dini hari, maka sepertiga malam yang terakhir kira-kira dimulai sejak jam 01.00 dini hari.

2. Di antara Adzan dan Iqamat

Banyak dari kita yang belum mengetahui akan hal ini. Biasanya, ketika menunggu sholat justru digunakan untuk berbincang-bincang dengan orang di sampingnya.

Padahal, kalau kita sadar, waktu ini merupakan salah satu waktu dimana doa sangat mustajab. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يُرَدُّ الدُّعَاءُ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Tidak akan ditolak doa di antara adzan dan iqamat.” [Hr. Abu Dawud]

3. Ketika Sujud

Kalau sedang sujud, anda biasanya baca apa? Doa sujud sebagaimana diajarkan di sekolah?

Bagus sebenarnya, tapi akan lebih bagus kalau ditambah dengan bacaan doa lain yang anda inginkan. Tentunya, dengan syarat harus dibaca dalam bahasa Arab.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Adapun waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdoa. Maka akan lebih besar kemungkinannya untuk diijabahi bagi kalian.” [Hr. Muslim]

4. Dalam Kondisi Terdholimi

Ketika seseorang berbuat kedholiman kepada kita, biasa yang kita lakukan akan berkata-kata kasar dan sebagainya. Padahal, ini merupakan kesempatan besar bagi kita untuk meminta kebaikan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Dan berhati-hatilah dari doa orang yang terdholimi, karena sesungguhnya tidak ada di antara dia dan di antara Allah akan penghalang.” [Muttafaqun alaih]

Selain menunjukkan tentang waktu yang bagus untuk berdoa, hadits ini sekaligus menjadi peringatan bagi kita. Hindari dari berbuat dholim kepada orang lain agar kita tidak celaka karena doanya.

5. Sedang Bepergian / Safar

Safar merupakan sebagian dari adzab. Akan tetapi, kondisi ini juga merupakan keadaan yang bagus untuk memanjatkan doa.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

“Ada 3 doa yang mustajab. Tidak ada keraguan pada mereka: Doa orang tua, doa seorang musafir, dan doa orang yang terzalimi.” [Hr. Abu Dawud]

Oleh karenanya, ketika anda sedang berada di bis umum, kereta, pesawat, atau kendaraan lain, perbanyaklah doa kepada Allah taala.

6. Hari Jumat

Jumat berkah, begitu kata orang-orang. Salah satu hal yang membuat hari ini begitu istimewa adalah adanya waktu doa mustajab padanya.

Dalam sebuah hadits, dijelaskan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

فِيهِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ، وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا، إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“Padanya ada sedikit waktu. Tidaklah seorang hamba muslim menemuinya, dia berdiri shalat, meminta kepada Allah taala akan sesuatu, kecuali pasti Dia akan memberikannya kepada hamba itu.” [Muttafaqun alaih]

7. Ketika Mendengar Ayam Berkokok

Seringkali kita mengabaikan hal ini. Kokok ayam kita anggap sebagai hal yang wajar dan biasa saja. Padahal, kalau kita mengerti, ia merupakan kesempatan emas untuk berdoa.

Abu Hurairah radliyallahu anhu membawakan sebuah hadits yang berbunyi:

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا

“Apabila kalian mendengar kokok ayam, maka mintalah kepada Allah dari karuniaNya. Karena sesungguhnya dia telah melihat malaikat.” [Muttafaqun alaih]

8. Berada di Samping Orang Sakit

Menjenguk orang sakit merupakan sesuatu yang dihasung dalam Islam. Ia termasuk dari kewajiban orang Islam atas orang Islam yang lain.

Ketika menjenguk dan berada di samping orang yang sakit, kita dianjurkan untuk berhati-hati dalam berbicara. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ، أَوِ الْمَيِّتَ، فَقُولُوا خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

“Apabila kalian mendatangi orang yang sakit atau mayit, maka ucapkanlah sesuatu yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat mengaminkan apa yang kalian ucapkan.” [Hr. Muslim]

Kesimpulan Adab dalam Berdoa

Setelah mengetahui bahwa doa adalah ibadah, maka sebagai seorang muslim, mari kita luangkan waktu untuk berdoa. Jangan sampai ada satu hari lewat tanpa kita memanjatkan doa padanya.

Namun, ternyata berdoa saja tidak cukup. Ada syarat dan adab yang perlu kita perhatikan agar Allah berkenan mengabulkan permintaan kita.

Demikianlah syarat dan adab dalam berdoa agar dikabulkan yang dapat kami jelaskan pada artikel ini, wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Wabillahit Taufiq.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.