Adab Berdoa agar Dikabulkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana adab berdoa kepada Allah taala sejak 14 abad yang lalu.

Poin-poin ini penting untuk kita perhatikan mengingat ia dapat berpengaruh kepada diterima atau tidaknya doa yang kita panjatkan kepada Allah taala.

Adab Berdoa agar Dikabulkan

Berikut saya sebutkan adab yang benar dalam berdoa sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

1. Berdoa dengan Ikhlas 

Hal paling penting untuk kita perhatikan adalah memurnikan seruan kita kepada Allah. Terkadang manusia berdoa kepada Allah, tetapi dia juga menggantungkan nasibnya kepada selain Allah.

Doa adalah ibadah. Seperti ibadah yang lain, ia juga memerlukan keikhlasan.

2. Mengiringinya dengan Sikap Sabar

Berdoa meminta keburukan sangat dilarang dalam Islam. Berdoa untuk memutus hubungan silaturrahmi juga tidak boleh. Berdoa secara terburu-buru juga harus dihindari.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ

“Tidak henti-hentinya diijabahi untuk seorang hamba, selagi dia tidak berdoa dengan keburukan dan memutus silaturrahim serta selagi tidak tergesa-gesa.” [Hr. Muslim]

Mendengar sabda beliau itu, ada seorang sahabat yang bertanya tentang maksud tergesa-gesa. Beliau pun menjelaskan:

يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ، فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Dia (hamba) mengatakan: Aku sudah berdoa dan aku telah berdoa, lalu aku tidak melihat ijabah untukku. Lalu dia putus asa ketika itu dan meninggalkan doa. [Hr. Muslim]

Mengenai doa keburukan, dalam hadits lain Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas diri-diri kalian. Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas anak-anak kalian. Dan janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas harta-harta kalian. Tidaklah kalian mencocoki suatu waktu dari Allah yang Dia diminta padanya akan suatu permintaan, maka Dia mengabulkan untuk kalian.” [Hr. Muslim]

3. Berdoa dengan Penghayatan

Seringkali karena kebiasaan, kita berdoa dengan cara semau kita yang dalam bahasa jawanya disebut sak-sak’e. Mulut mengucap, tapi hati tidak hadir. Cara seperti ini salah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه 

Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin dengan ijabah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan suatu doa (yang muncul) dari hati yang lalai dan bermain-main. 

4. Mengangkat Kedua Tangan dan Menghadap Kiblat

Berikut ini merupakan cuplikan dari cerita ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu mengenai peristiwa Badr:

فَاسْتَقْبَلَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ

“Maka Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah kiblat kemudian mengangkat tangan beliau lalu beliau berdoa kepada Pemeliharanya.” [Hr. Muslim]

Ketika menjelaskan hadits ini, An-Nawawi berkata: “Dan padanya ada (dalil) disukainya menghadap kiblat ketika berdoa dan mengangkat tangan padanya.” [Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim 6/213]

Ketika mengangkat tangan sebagai adab dalam berdoa ini, kita menghadapkan perut telapak tangan ke atas, bukan punggungnya. Malik bin Yasar radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

“Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan perut-perut telapak tangan kalian dan janganlah kalian meminta kepada-Nya dengan punggung-punggungnya.” [Hr. Abu Dawud]

Selain itu, Al-‘Utsaimin juga menjelaskan bahwa sunah mengangkat tangan adalah dengan menggadengkannya, bukan memisah antara dua tangan. Beliau berkata: “Adapun perbuatan memisah dan menjauhkan di antara keduanya, saya tidak mengetahui adanya dalil baginya. Tidak ada pada As-Sunnah dan tidak pula pada perkataan ulama.” [Asy-Syarhul Mumti’ 4/18]

5. Berdoa dengan Hamdalah dan Shalawat

Ketika berdoa sebaiknya diawali dengan kalimat hamdalah dan shalawat.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Fadlalah bin ‘Ubaid, ada seorang sahabat yang shalat, kemudian setelah selesai langsung berdoa kepada Allah.

Melihat itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur dan bersabda:

عجلت أيها المصلي إذا صليت فقعدت فاحمد الله بما هو أهله وصل علي ثم ادعه

“Engkau tergesa-gesa wahai orang yang shalat. Apabila engkau shalat, lalu duduk, maka pujilah Allah yang pujian itu adalah hak-Nya dan bershalawatlah atasku, kemudian berdoalah kepada-Nya.” [Hr. At-Tirmidzi]

Dan ketika ada orang lain yang juga shalat, kemudian dia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا المُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

“Wahai orang yang (selesai) shalat. Berdoalah niscaya diijabahi.” [Hr. At-Tirmidzi]

6. Berdoa dengan Suara yang Lembut

Termasuk dari adab dalam berdoa adalah melembutkan suara. Menjadikan suara berada di antara suara keras dan suara lirih. Allah taala berkalam:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Serulah oleh kalian akan Pemelihara kalian dengan rendah diri dan suara yang lirih. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Qs. Al-A’raf (7) : 55]

Sangat disayangkan sekali ketika seseorang berdoa, tetapi diiringi musik jingkrak-jingkrak. Tidak sesuai adab!

7. Memulai dari Diri Sendiri

Ubay bin Kaab radliyallahu ‘anhu berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا ذكر أحدا فدعا له بدأ بنفسه

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengingat seseorang lalu beliau akan mendoakan kebaikan untuknya, beliau memulai dengan diri beliau sendiri.” [Hr. At-Tirmidzi]

8. Bersungguh-Sungguh

Adab berdoa terakhir adalah kesungguhan dalam berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ ، وَلاَ يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam permintaan. Dan janganlah dia berkata: Ya Allah, jika Engkau berkehendak, maka berilah aku. Sesungguhnya tidak ada seorang pemaksa untuk-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Dalam kondisi ini, jadilah seperti anak kecil yang sedang meminta sesuatu kepada orang tuanya. Bagaimana cara agar orang tuanya mengabulkan permintaan anak itu?

Ya, benar! Anak itu merengek-rengek. Bersungguh-sungguh. Bahkan terkadang juga menangis karena kesungguhannya.

9. Memanfaatkan Waktu-Waktu Mustajab 

Selain memperhatikan tentang tata cara dalam berdoa, kita juga perlu memperhatikan waktu-waktu terbaik dimana doa pada waktu waktu itu lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan.

Demikianlah adab berdoa agar dikabulkan yang dapat kami jelaskan pada artikel ini, wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Wabillahit Taufiq.