Adab Berdoa agar Doa Dikabulkan

Syarat dan Adab Berdoa – yang harus diperhatikan oleh seorang muslim agar doa dikabulkan. Beberapa ayat dalam Al-Qur`an telah mengisyaratkannya.

Ketika seseorang berdoa, secara garis besar hendaknya dia menyertai doanya dengan 4 hal berikut:

  1. TADHARRU’ (rendah diri),
  2. KHASYYAH (rasa takut),
  3. SUKUUN (penuh ketenangan), dan
  4. HUSNUL ADAB (bagusnya adab).

Adapun dalam kesempatan ini, saya tuliskan tata cara berdoa sesuai sunnah yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya saya juga telah membuat artikel tentang adab bertamu yang bagus untuk anda baca. (baca: adab bertamu)

Pengertian Doa

Doa dalam bahasa Arab adalah berasal dari kata دعا – يدعو – دعاء yang artinya adalah menyeru. Adapun secara istilah, doa artinya adalah ungkapan khusus untuk menunjukkan permohonan disertai kerendahan hati. [Al-Mausu’atul Fiqhiyyah 20/256]

Doa adalah ibadah. Allah taala berkalam, “Dan Pemelihara kalian berkata: Berdoalah kepadaku, pasti aku mengijabahi untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang yang mereka sombong dari beribadah kepadaku, mereka akan masuk ke dalam Jahannam dalam keadaan hina.” [Qs. Ghafir (40) : 60] 

Syarat dan Adab Berdoa agar Doa Dikabulkan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan kepada kita tentang bagaimana adab berdoa kepada Allah taala sejak 14 abad yang lalu.

Berikut saya sampaikan tuntunan beliau:

1. Mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat

Berikut ini merupakan cuplikan dari cerita ‘Umar bin Al-Khaththab radliyallahu ‘anhu mengenai peristiwa Badr:

فَاسْتَقْبَلَ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ

“Maka Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah kiblat kemudian mengangkat tangan beliau lalu beliau berdoa kepada Pemeliharanya.” [Hr. Muslim]

Ketika menjelaskan hadits ini, An-Nawawi berkata: “Dan padanya ada (dalil) disukainya menghadap kiblat ketika berdoa dan mengangkat tangan padanya.” [Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim 6/213]

Ketika mengangkat tangan ini, kita menghadapkan perut telapak tangan ke atas, bukan punggungnya. Malik bin Yasar radliyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ بِبُطُونِ أَكُفِّكُمْ وَلاَ تَسْأَلُوهُ بِظُهُورِهَا

“Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan perut-perut telapak tangan kalian dan janganlah kalian meminta kepada-Nya dengan punggung-punggungnya.” [Hr. Abu Dawud]

Selain itu, Al-‘Utsaimin juga menjelaskan bahwa sunah mengangkat tangan adalah dengan menggadengkannya, bukan memisah antara dua tangan. Beliau berkata: “Adapun perbuatan memisah dan menjauhkan di antara keduanya, saya tidak mengetahui adanya dalil baginya. Tidak ada pada As-Sunnah dan tidak pula pada perkataan ulama.” [Asy-Syarhul Mumti’ 4/18]

2. Menghayati Doa dan Yakin Terijabah

Seringkali karena kebiasaan, kita berdoa dengan cara semau kita yang dalam bahasa jawanya disebut sak-sak’e. Mulut mengucap, tapi hati tidak hadir. Cara seperti ini salah karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ادعوا الله وأنتم موقنون بالإجابة واعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه 

Berdoalah kalian kepada Allah dalam keadaan kalian yakin dengan ijabah. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan suatu doa (yang muncul) dari hati yang lalai dan bermain-main. 

3. Memulai dengan Hamdalah dan Shalawat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Fadlalah bin ‘Ubaid, ada seorang sahabat yang shalat, kemudian setelah selesai langsung berdoa kepada Allah.

Melihat itu, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur dan bersabda:

عجلت أيها المصلي إذا صليت فقعدت فاحمد الله بما هو أهله وصل علي ثم ادعه

“Engkau tergesa-gesa wahai orang yang shalat. Apabila engkau shalat, lalu duduk, maka pujilah Allah yang pujian itu adalah hak-Nya dan bershalawatlah atasku, kemudian berdoalah kepada-Nya.” [Hr. At-Tirmidzi]

Dan ketika ada orang lain yang juga shalat, kemudian dia memuji Allah dan bershalawat atas Nabi, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا المُصَلِّي ادْعُ تُجَبْ

“Wahai orang yang (selesai) shalat. Berdoalah niscaya diijabahi.” [Hr. At-Tirmidzi]

4. Tidak Meminta Keburukan 

Salah satu adab berdoa yang sangat harus kita perhatikan adalah senantiasa tidak meminta keburukan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ وَلاَ تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لاَ تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas diri-diri kalian. Janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas anak-anak kalian. Dan janganlah kalian mendoakan (keburukan) atas harta-harta kalian. Tidaklah kalian mencocoki suatu waktu dari Allah yang Dia diminta padanya akan suatu permintaan, maka Dia mengabulkan untuk kalian.” [Hr. Muslim]

5. Ketika akan Mendoakan Kebaikan untuk Orang Lain, Memulai dengan Diri Sendiri

Ubay bin Kaab radliyallahu ‘anhu berkata:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا ذكر أحدا فدعا له بدأ بنفسه

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengingat seseorang lalu beliau akan mendoakan kebaikan untuknya, beliau memulai dengan diri beliau sendiri.” [Hr. At-Tirmidzi]

6. Bersungguh-Sungguh

Adab berdoa terakhir adalah kesungguhan dalam berdoa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ الْمَسْأَلَةَ ، وَلاَ يَقُولَنَّ اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِي فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرِهَ لَهُ.

“Apabila salah seorang dari kalian berdoa, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam permintaan. Dan janganlah dia berkata: Ya Allah, jika Engkau berkehendak, maka berilah aku. Sesungguhnya tidak ada seorang pemaksa untuk-Nya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Demikianlah adab berdoa pada artikel ini. Semoga bermanfaat.

Wabillahit Taufiq.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.