15 Adab Bertamu Praktis Dalam Islam

Apabila Anda termasuk sering mengunjungi rumah orang lain dan ingin kunjungan itu bernilai pahala, maka adab bertamu ini penting untuk Anda baca.


Dalam Islam, kita dihasung untuk saling berkunjung kepada sesama. Terlebih kepada kerabat, guru, dan teman supaya bisa mengetahui keadaan saudara kita sesama muslim.

Namun, kita tidak boleh asal-asalan dalam hal berkunjung-kunjungan. Artinya, ada etika yang harus kita jaga. Kalau dalam bahasa jawa, ada unggahungguhnya.

Berikut ini kami jelaskan adab bertamu menurut Al Quran dan hadits agar perbuatan yang kita lakukan bernilai pahala.

1. Memilih Waktu yang Tepat

Menjadi seorang tamu harus mengetahui waktu yang tepat, jangan sampai mengganggu tuan rumah sehingga menjadi orang yang tidak diharapkan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memberi contoh. Sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu:

كَانَ لاَ يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلاً وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً

“Adalah beliau tidak mengetuk (pintu) keluarga beliau di waktu malam. Dan adalah beliau mendatangi mereka di waktu pagi dan sore.” [Muttafaqun ‘alaih]

Ulama menjelaskan, ada 3 waktu yang dilarang untuk bertamu, yaitu:

  1. Sebelum shalat shubuh.
  2. Menjelang dhuhur.
  3. Setelah shalat isya.

Larangan itu didasari oleh kalam Allah dalam surat An-Nuur ayat 58.

2. Dianjurkan untuk Membawa Hadiah

Hal ini bukan sebuah kewajiban, akan tetapi adalah hasungan.

Ketika mengunjungi saudara muslim yang lain, sangat dihasung untuk membawa hadiah karena dapat mempererat persaudaraan Islam. Hadiah yang dimaksud bisa berupa makanan dan semisalnya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَهَادُوا تَحَابُّوا

“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” [Hr. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad]

Baca Juga: Adab Bertetangga

3. Meminta Izin Sebelum Masuk Rumah

Merupakan sifat seorang muslim yaitu meminta izin ketika akan masuk ke rumah orang lain, meskipun itu adalah rumah teman atau saudara sendiri. Allah taala berkalam:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Wahai orang-orang yang mengaku beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah selain rumah kalian sampai kalian meminta izin dan memberi salam kepada pemiliknya. Demikian itu lebih baik untuk kalian supaya kalian mengambil pelajaran.” [An-Nur : 27]

4. Meminta Izin Maksimal 3 Kali

Meminta izin di sini bisa diartikan sebagai ketukan pintu juga. Dalam islam, kita hanya diperbolehkan mengetuk pintu sebanyak 3 kali. Apabila dijawab, baru kita lanjutkan. Namun bila tidak, maka kita pulang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلاَثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِع

“Apabila salah seorang dari kalian meminta izin 3 kali lalu dia tidak diberi izin, hendaknya dia pulang.” [Hr. Al-Bukhari]

5. Mengetuk Pintu dengan Ketukan Lembut

Seringkali, ketukan seorang tamu sangat keras, bahkan terkesan menggedor sehingga mengganggu tuan rumah. Ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengenai etika bertamu ketika mengetuk pintu adalah menggunakan kuku.

Anas bin Malik radliyallahu anhuma berkata:

إِنَّ أَبْوَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كانت تقرع بالأظافير

“Sesungguhnya pintu-pintu Nabi shallallahu alaihi wa sallam diketuk menggunakan kuku-kuku.” [Hr. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad]

6. Mengucapkan Salam Maksimal 3 kali

Masalah ini sangat sepele, tetapi ternyata masih banyak dari kita yang belum mengetahuinya. Seringkali, kita mengetuk pintu sebanyak mungkin hingga tuan rumah, padahal itu tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلاَثًا

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau mengucapkan salam, beliau mengucapkannya 3 kali.” [Hr. Al-Bukhari]

7. Tidak Menghadap Pintu

Larangan menghadap ke arah pintu ketika berkunjung ke rumah orang ini ada karena dikhawatirkan tamu melihat aurat tuan rumah. Misalkan pintu dalam keadaan terbuka, maka lebih baik kita membelakanginya.

Abdullah bin Busr radliyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الأَيْمَنِ أَوِ الأَيْسَرِ وَيَقُولُ « السَّلاَمُ عَلَيْكُمُ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ ». وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadap ke arah pintu dari arah wajahnya, akan tetapi dari samping kanan atau kiri dan beliau mengatakan, “Assalamualaikum..assalamualaikum.” Hal itu terjadi karena rumah-rumah di hari itu tidak ada penutup-penutupnya.” [Hr. Abu Dawud]

8. Tidak Mengintip ke Dalam Rumah

Jangan pernah mengintip ke dalam rumah orang lain ketika bertamu. Jika seseorang melakukannya lalu tuan rumah mencolok matanya, maka hal itu dibenarkan dalam Islam dan tuan rumah tidak dikenakan hukum qishash.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ امْرَءًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِعَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ جُنَاحٌ

“Kalaulah ada seseorang yang mengintip atasmu dengan tanpa izin, lalu engkau melemparnya dengan kerikil lalu engkau mencungkil matanya, maka tidak ada dosa atasmu.” [Muttafaqun ‘alaih]

Pernah ada seorang laki-laki mengintip kamar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan saat itu beliau membawa sebuah tongkat. Maka beliau bersabda:

لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْظُرُ، لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ، إِنَّمَا جُعِلَ الِاسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ البَصَرِ

“Kalau saja aku mengetahui bahwa kamu mengintip, pasti aku tusuk matamu dengannya. Sesungguhnya minta izin itu dibuat karena adanya pandangan.” [Muttafaqun alaih]

9. Mengenalkan Diri ketika Ditanya

Seorang tamu harus menyebutkan nama jelas ketika ditanya tentangnya. Seperti yang diajarkan oleh Jibril ‘alaihis salam ketika mi’raj bersama Nabi:

فَلَمَّا جِئْتُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ جِبْرِيلُ لِخَازِنِ السَّمَاءِ افْتَحْ قَالَ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا جِبْرِيلُ .

“Maka tatkala aku mendatangi langit dunia, Jibril berkata kepada penjaga langit: Bukakanlah. Dia (penjaga) berkata: Siapa ini? Dia berkata: Ini adalah Jibril.” [Muttafaqun ‘alaih]

Salah satu kesalahan adab bertamu dalam perkara ini adalah menjawab dengan jawaban “saya..saya..”.

Dalam kitab Shahihul Bukhari disebutkan bahwa Jabir bin Abdullah radliyallahu anhu pernah berkunjung ke rumah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengetuk pintu rumah beliau.

Nabi bertanya, “Siapa ini?”

Jabir menjawab: Saya.

Maka kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Saya…saya”, seakan beliau membenci ucapan tersebut.

10. Menyebutkan Keperluan Ketika Ditanya

Perbuatan ini telah diajarkan oleh malaikat-malaikat utusan yang mendatangi Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Allah taala menyebutkan cerita mereka:

قَالَ فَمَا خَطْبُكُمْ أَيُّهَا الْمُرْسَلُونَ (31) قَالُوا إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمٍ مُجْرِمِينَ

“Dia (Ibrahim) bertanya: Lalu apa keperluan kalian wahai para utusan? Mereka menjawab: Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang pendosa.” [Qs. Adz-Dzariyat (51) : 32]

Ketika tuan rumah bertanya kepada Anda mengenai tujuan kedatangan Anda, maka jawablah dengan jawaban yang jelas.

11. Memintakan Izin untuk Selain yang Diundang

Poin ini juga perlu kita garis bawahi, karena sangat sedikit dari kita yang memperhatikannya.

Ketika ada sebuah undangan khusus untuk Anda dan kebetulan Anda membawa orang lain ketika menghadirinya, maka mintakanlah izin untuk orang yang Anda bawa.

Dalam sebuah cerita, sahabat Abu Syaib mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan 4 orang untuk jamuan makan, dan ternyata ada satu orang yang ikut.

Maka ketika telah sampai di rumah Abu Syuaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:

إِنَّ هَذَا قَدِ اتَّبَعَنَا أَتَأْذَنُ لَهُ قَالَ نَعَمْ

“Sesungguhnya orang ini telah mengikuti kami, apakah engkau memberi izin untuknya? Dia (Abu Syuaib) berkata: Ya.” [Muttafaqun ‘alaih]

12. Duduk di Tempat yang Disediakan

Setelah tuan rumah mempersilakan kita untuk masuk ke rumahnya, itu bukan berarti kita boleh duduk sesuka kita. Kita hanya diperbolehkan duduk di tempat yang ditunjuk oleh pemilik rumah.

Muawiyah bin Hudaij berkata:

قَدِمْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَاسْتَأْذَنْتُ عَلَيْهِ فَقَالُوا لِي: مَكَانَكَ حَتَّى يَخْرُجَ إِلَيْكَ فَقَعَدْتُ قَرِيبًا مِنْ بَابِهِ

“Aku berkunjung kepada Umar bin Al-Khaththab radliyallahu anhu lalu minta izin kepada dia. Maka mereka berkata kepadaku: Tetaplah di tempatmu sampai dia keluar kepadamu. Maka aku pun duduk dekat dengan pintunya.” [Hr. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad]

13. Memakan Makanan yang Dihidangkan

Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan orang yang bertamu agar memakan hidangan yang disediakan. Islam tidak memandang baik kepada orang yang enggan memakan hidangan dari pemilik rumah.

Ketika seseorang sedang puasa sunnah, maka dia diberi pilihan untuk mendoakan atau membatalkan puasanya.

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ، فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا، فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا، فَلْيَطْعَمْ

“Apabila salah seorang dari kalian diundang, hendaknya dia memenuhi undangan. Jika dia dalam keadaan puasa, hendaknya dia mendoakan. Dan jika dia dalam keadaan berbuka, hendaknya dia makan.” [Hr. Muslim]

Baca Juga: Adab Makan dan Minum

14. Segera Kembali Ketika Urusan Selesai

Tuan rumah adalah orang yang sama seperti kita. Mereka memiliki urusan dalam kehidupan mereka sendiri.

Oleh karenanya, ketika kita berkunjung ke rumah mereka, sudah sepantasnya kita berlama-lama tanpa ada keperluan yang mendesak.

Allah taala berkalam:

وَلَكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِرُوا وَلَا مُسْتَأْنِسِينَ لِحَدِيثٍ 

“Apabila kalian dipanggil, maka masuklah. Lalu apabila kalian telah selesai makan, maka bubaranlah dan janganlah berlama-lama untuk berbincang.” [Qs. Al-Ahzab (33) : 53]

Bagi tamu yang ingin menginap, Islam telah memberi ketentuan bahwa seseorang tidak boleh menginap lebih dari 3 hari karena dapat membuat tuan rumah berbuat dosa. Inilah adab bertamu dan menginap.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bertamu itu selama tiga hari, dan pelayanannya selama siang atau malam hari. Tidak halal bagi seorang muslim bermukim di rumah saudaranya sampai saudaranya berdosa karenanya.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana dia bisa berdosa?” beliau menjawab: “Dia bermukim di rumah saudaranya hingga saudaranya tidak punya apa-apa lagi untuk menjamunya.” (HR Muslim)

15. Mendoakan Tuan Rumah

Islam mengajarkan kepada kita untuk membalas kebaikan dengan kebaikan. Setelah kita mendapat penyambutan dari tuan rumah, maka kita bisa membalasnya dengan doa.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan orang yang menjamu beliau dengan doa:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَهُمْ فِى مَا رَزَقْتَهُمْ وَاغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ

ALLAHUMMA BAARIK LAHUM FIIMA RAZAQTAHUM WAGHFIR LAHUM WARHAMHUM

“Ya Allah, berkahilah bagi mereka pada apa-apa yang Engkau rezekikan kepada mereka, ampunilah mereka, dan belas kasihilah mereka.” [Hr. Muslim]

Demikianlah adab bertamu dalam islam yang dapat anda amalkan, wallahu a’lam.

Leave a Reply