Breaking News

Allahul Musta’an Artinya, Tulisan Arab, Maksud, dan Kapan Diucapkan

Allahul musta’an sering kita dengar ketika mengikuti kajian-kajian keislaman. Entah diucapkan oleh pembicara atau orang yang duduk bersama kita. Mungkin, kita sendiri pun juga sering mengucapkannya.

Lalu yang menjadi pertanyaan, apa arti dan manfaat dari ucapan ini, serta kapan waktu yang tepat dan benar bagi kita untuk mengucapkannya?

Nah, dalam artikel ini, kita akan membahas seputar kalimat ini. Pembahasan akan saya jadikan 3 poin, yaitu:

  1. Arti dan asal kalimat
  2. Maksud kalimat
  3. Kapan kita mengucapkannya

Selamat membaca hingga selesai ya.

Arti Allahul Musta’an / الله المستعان dan Tulisan Arab

Kalimat ini sebenarnya berasal dari bahasa Arab dan biasa diucapkan oleh orang-orang yang sedang berusaha untuk mengamalkan ajaran Islam dengan benar.

Kalau kita membaca al quran, kita juga bisa mendapatkan kalimat ini diucapkan oleh Nabi Yaqub alaihis salam. Silahkan anda buka pada surat Yusuf (12) ayat 18.

Allah taala berkalam:

وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

“Dan mereka datang membawa baju gamisnya dengan darah palsu. Dia (Ya’qub) mengatakan: Bahkan diri-diri kalian telah menganggap baik perkara ini. Maka (aku bersabar dengan) sabar yang baik. Dan Allahlah tempat meminta pertolongan atas apa yang kalian sifatkan.”

Inilah dalil dari al-Quran mengenai kalimat ini. Ucapan nabi Yaqub alaihis salam : Fashobrun jamiil wallahul musta’an.

Mengenai arti, allahul musta’an artinya adalah Allah itu tempat meminta pertolongan. Ia berasal dari tulisan Arab اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ .

Maksud Wallahul Musta’an

Maksud dari kalimat ini adalah bahwasanya kita hanya meminta pertolongan kepada Allah memang Allahlah satu-satunya Dzat yang pantas dan berhak untuk diminta pertolongan dari-Nya.

Sebagaimana dalam cerita Nabi Yaqub bersama anak-anaknya di atas, ketika anak-anak beliau membawa baju Nabi Yusuf dalam keadaan berlumuran darah palsu seraya berbohong bahwa Nabi Yusuf telah dimakan serigala, kalimat ini diucapkan oleh Nabi Yaqub.

Maksudnya, Nabi Yaqub tahu bahwa mereka telah berbohong, tetapi beliau tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya beliau memasrahkan semuanya kepada Allah dan meminta pertolongan kepada-Nya.

Kapan Kita Mengucapkan Allahul Musta’an?

Tentu, agar setiap apa yang kita amalkan ini sesuai sunnah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kita juga perlu membahas mengenai waktu yang tepat untuk mengerjakan suatu perkara.

Namun sebelumnya yang perlu kita pahami, mengucapkan kalimat ini bukan sesuatu yang wajib. Akan tetapi, ia termasuk dari ucapan-ucapan yang baik sehingga sangat baik bagi kita untuk mengucapkannya.

Mengenai kapan waktu yang tepat untuk mengucapkannya, kita bisa melihat kepada cerita-cerita yang sampai kepada kita dari para nabi dan para sahabat.

Sebagaimana yang telah kita bahas, Nabi Yaqub mengucapkannya ketika terkena sesuatu yang tidak beliau sukai dan beliau hanya bisa pasrah kepada Allah.

Begitu juga yang diamalkan oleh para sahabat Nabi, sebagaimana cerita sahabat Utsman bin Affan radliyallahu anhu saat diberitahu bahwa dia akan masuk syurga, tetapi dengan beberapa ujian.

Abu Musa Al-Asy’ari radliyallahu anhu bercerita:

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَائِطٍ مِنْ حِيطَانِ المَدِينَةِ فَجَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ» فَفَتَحْتُ لَهُ، فَإِذَا أَبُو بَكْرٍ، فَبَشَّرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَحَمِدَ اللَّهَ، ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ فَاسْتَفْتَحَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»، فَفَتَحْتُ لَهُ فَإِذَا هُوَ عُمَرُ، فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَحَمِدَ اللَّهَ، ثُمَّ اسْتَفْتَحَ رَجُلٌ، فَقَالَ لِي: «افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ، عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ»، فَإِذَا عُثْمَانُ، فَأَخْبَرْتُهُ بِمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ المُسْتَعَانُ

“Aku sedang bersama Nabi shallallahu alaihi wa sallam di dalam salah satu kebun dari kebun-kebun Madinah. Seorang laki-laki kemudian datang dan meminta untuk dibukakan (pintu). Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bukakan untuknya dan berilah ia kabar gembira dengan syurga.”

Aku pun membukakan pintu untuknya. Ternyata ia adalah Abu Bakar. Lalu aku memberinya kabar gembira dengan apa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka dia memuji Allah.

Kemudian seorang laki-laki lain datang lalu meminta untuk dibukakan pintu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Bukakan untuknya dan berilah kabar gembira untuknya dengan syurga.”

Aku lalu membuka pintu untuknya. Ternyata ia adalah Umar. Aku memberitahunya dengan apa yang diucapkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka dia memuji Allah.

Kemudian seorang laki-laki lain meminta untuk dibukakan pintu. Maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Bukalah untuknya dan berilah ia kabar gembira berupa syurga diiringi dengan ujian yang akan mengenainya.”

Ternyata dia adalah Utsman. Aku pun memberitahunya dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Dia mengucap tahmid, kemudian mengatakan: Allahul musta’an.” [Hr. Al-Bukhari]

Begitu juga sahabat Aisyah radliyallahu anha dalam peristiwa haditsul ifki (cerita bohong) yang sudah sangat terkenal. Saat desas-desus tidak baik mengenai beliau telah tersebar dan hampir mempengaruhi setiap penduduk di kota Madinah, beliau didatangi oleh Rasulullah untuk tabayun (meminta penjelasan). Saat itu ibunda Aisyah radliyallahu anha juga mengucapkan kalimat ini.

Kesimpulannya, ucapkanlah kalimat ini ketika kita mendapat sesuatu yang tidak kita sukai, dan kita hanya mampu pasrah kepada Allah.

Nah, demikianlah penjelasan mengenai allahul musta’an artinya apa, bagaimana maksudnya, dan kapan kita mengucapkan kalimat ini, semoga bermanfaat.