Doa Bacaan Istighosah Ringkas

Tradisi istighosahan dengan bacaan-bacaan istighosah sudah banyak dikenal di negara kita Indonesia. Bahkan kita sering melihat orang-orang yang melakukannya, entah secara langsung, di media sosial, atau dari surat kabar.

Sebenarnya, apakah perbuatan ini termasuk dari sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Kalau itu memang dituntunkan, bagaimanakah doa istighosah yang dapat menjadi amalan kita?

Istighosah

Istighosah adalah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah thalabul ghauts. Maknanya adalah meminta bantuan untuk diselamatkan dari kesulitan, bencana, atau musibah.

Karena termasuk permohonan, maka dalam islam perbuatan ini ada yang diperbolehkan dan ada yang tidak. Contoh istighosah yang diperbolehkan adalah istighosah kepada Allah dan kepada manusia yang masih hidup.

Istighotsah kepada Allah merupakan ibadah yang sangat agung dan mulia. Dalam perbuatan ini, terkandung makna bahwa kita benar-benar sangat mebutuhkan Allah taala dan memang begitulah seharusnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri pernah melakukannya. Allah taala mengisahkan istighotsahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di perang badar:

“Ingatlah tatkala kalian beristighosah kepada Pemelihara kalian, lalu dia ijabahi untuk kalian.” [Qs. Al-Anfal : 9]

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau menyebutkan sebuah riwayat yang diceritakan oleh sahabat Umar bin Al-Khaththab radliyallahu anhu.

Pada peristiwa Badar itu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melihat kepada para sahabat yang berjumlah 300 sekian. Dan beliau melihat kepada orang-orang musyrik, ternyata mereka berjumlah 1000 orang lebih.

Maka, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa: “Ya Allah, manakah yang telah Engkau janjikan padaku. Ya Allah, berikanlah apa yang telah Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok kecil dari umat Islam ini, maka Engkau tidak akan disembah di bumi selama-lamanya.” [Tafsirubnu Katsir 4/18]

Adapun istighotsah kepada manusia hukumnya diperbolehkan dengan syarat yang dimintai bantuan masih hidup, ada dihadapannya, mendengar, dan mampu memberikan apa yang diminta.

Misalkan ada orang yang tercebur ke dalam kolam renang, ternyata dia tidak bisa berenang. Kebetulan saat itu ada orang lain di situ. Maka, orang yang tercebur tadi boleh untuk meminta pertolongan kepada orang yang ada di situ dan ini juga disebut sebagai istighotsah.

Cara dan Bacaan Istighosah

Tidak ada aturan khusus mengenai cara melakukan istighosah. Etika dan adab yang perlu kita perhatikan dalam masalah ini adalah sebagaimana etika dan adab dalam berdoa secara umum.

Termasuk dari yang bisa kita lakukan adalah dengan mengangkat tangan setinggi-tingginya. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ketika di perang Badar yang telah kita bahas di atas.

Mengenai bacaan istighosah pada asalnya juga tidak ada kekhususan. Akan tetapi, kita bisa membaca doa pagi dan petang yang didalamnya terdapat kata istighosah.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajarkan doa berikut ini kepada Fathimah radliyallahu anha:

doa bacaan istighosah

gambar bacaan doa istighosah sesuai sunnah

Lafal Arab

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ

Lafal Latin

Ya hayyu ya qayyuum. Birahmatika astaghits. ashlihli sya’ni kullahu walaa takilni ilaa nafsi thorfata ain.

Artinya

Wahai Dzat yang Mahahidup dan Mahamemelihara, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan kepada-Mu. Perbaikilah segala urusanku semuanya. Dan janganlah Engkau serahkan segala urusanku itu kepadaku meskipun hanya sekejap mata. [Hr. An-Nasa’i]

Baca Juga: Asmaul Husna

Istighotsah yang Dilarang

Sebelumnya sudah dibahas bahwa istighosah adalah meminta bantuan untuk diselamatkan dari bahaya atau musibah. Maka, seharusnya kita hanya memintanya kepada Allah taala dan tidak pantas memintanya kepada makhluk, kecuali dengan syarat yang telah dijelaskan sebelumnya.

Adapun meminta bantuan kepada orang yang masih hidup dalam hal yang hanya bisa dilakukan oleh Allah, seperti meminta agar disembuhkan, meminta agar rezeki dilancarkan, dan lain sebagainya itu tidak diperbolehkan.

Dalam hal ini, yang paling jelas adalah mendatangi dukun atau paranormal. Dalam Islam, ini sangat dilarang dengan keras. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahkan sampai memberikan ancaman yang sangat keras:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi seorang dukun lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima sholatnya 40 hari.” [Hr. Muslim]

Termasuk yang juga tidak diperbolehkan adalah meminta bantuan kepada orang yang sudah meninggal seperti meminta pertolongan ke kuburan nabi, wali Allah, dan orang sholeh. Juga kepada pohon, patung, dan lain sebagainya dari benda mati. Hal ini termasuk dari kesyirikan.

Terdapat banyak ayat dalam Al-Quran yang melarang dari perbuatan-perbuatan seperti ini sebagaimana berikut:

“Jika kalian menyeru mereka, maka mereka tidak mendengar seruanmu. Dan kalaulah mereka mendengar, maka tidaklah mereka mengijabahi untuk kalian. Dan di hari kiamat mereka mengingkari dengan kesyirikan kalian.. .” [Qs. Fathir ayat 14]

“Dan janganlah kamu menyeru dari selain Allah apa-apa yang tidak dapat memberi manfaat kepadamu dan tidak memberi mudarat kepadamu. Maka jika kamu melakukan, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk dari golongan orang-orang yang dhalim.” [Qs. Yunus (10) ayat 106]

Kebanyakan orang yang melakukan istighosah memiliki tujuan untuk meminta rezeki seperti agar diberi hidup yang sehat, agar diberi keselamatan, agar diberi harta, makanan, rumah, dan sebagainya. Dalam hal ini, kita hanya diperbolehkan untuk memintanya kepada Allah taala:

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Sesungguhnya apa-apa yang kalian sembah dari selain Allah tidak mampu memberi rezeki untuk kalian, maka carilah rezeki dari hadapan Allah. Dan sembah serta bersyukurlah kepada-Nya. Kepada-Nya kalian akan kembali.” [Qs. Al Ankabut (29) ayat 17]

Demikianlah pengertian, cara, dan bacaan istighosah, wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan