Cara Meredam Amarah Menurut Islam

Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahas mengenai cara meredam amarah menurut Islam.

Kita pasti pernah marah karena itu adalah sifat yang manusiawi. Namun, sebagai seorang muslim kita harus mampu untuk menahannya supaya tidak bersifat memadharati, entah bagi diri kita sendiri ataupun kepada orang lain.

cara meredam amarah menurut islam

Berikut ini beberapa cara untuk meredam amarah menurut Islam:

1. Ingatlah Keutamaan Orang yang Menahan Amarah

Daripada kita memuntahkan emosi, lebih baik kita ingat-ingat ayat berikut ini:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bercepat-cepatlah kalian menuju ampunan dari Pemelihara kalian dan (kepada) syurga yang luasnya itu seluas langit dan bumi. Ia dipersiapkan bagi orang-orang yang bertaqwa (133) (yaitu) orang-orang yang mau berinfaq di saat senang dan di saat payah, dan orang-orang yang menahan amarah, dan orang-orang yang suka memaafkan (dari kesalahan) manusia. Dan Allah itu mencintai orang-orang yang berbuat baik (134)” [Qs. Ali Imran ayat 133-134]

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. juga memberi taushiyah:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا – وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ – دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ 

“Barang siapa menahan amarah – padahal dia mampu untuk melampiaskannya -, pasti Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluq di hari Kiamat sampai Dia memberinya pilihan bidadari yang dia inginkan.” [Hr. Abu Dawud dari hadits Mu’adz bin Anas ra., hasan, Shahihul Jami’ish Shaghir, 6522]

Dalam riwayat lain disebutkan:

لا تَغْضَبْ، وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Tahanlah amarah, dan bagimu syurga.” [Hr. Ath-Thabrani dari hadits Abud Darda`, shahih lighairihi, Shahihut Targhib wat Tarhib, 2749]

2. Membaca Taawudz / Meminta Perlindungan Dari Syaithon

Kenapa kita membaca taawudz saat marah? Karena diperintahkan oleh Rasulullah Saw. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Sulaiman bin Surad ra., beliau bercerita:

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ

“Aku pernah duduk bersama Nabi Saw. ketika ada dua orang yang saling mencaci. Salah satu dari dua orang itu wajahnya memerah dan urat lehernya menegang. Maka Nabi Saw. bersabda: Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimat yang kalau dia (orang yang marah) mengucapkannya maka amarahnya pasti hilang. Kalau dia mengucapkan: Audzubillahi minasy Syaithanir Rajim (Aku berlindung kepada Allah dari syaithan yang terkutuk) maka amarahnya pasti hilang.” [Hr. Al-Bukhari, 3282, shahih]

3. Menahan Diri dengan Diam

Ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, maka keinginan untuk mengumpat sangatlah besar dalam dirinya. Ketika keinginan itu dia lampiaskan, maka marahnya akan semakin menjadi dan pasti akan timbul madharat, minimal retaknya persaudaraan antara dia dan orang yang dia marahi. Karena itulah, Nabi Saw. menasehatkan:

وَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

“Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya dia diam.” [Hr. Ahmad dari hadits Ibnu Abbas ra., Syaikh Al-Arna`uth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi, 2136]

4. Berganti Posisi

Kiat ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-Ghifariy ra.:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِ

“Apabila salah seorang dari kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah dia duduk. Maka jika marahnya belum hilang, hendaknya dia berbaring.” [Hr. Abu Dawud, hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani dalam kitab Shahihu wa Dlaifu Sunani Abi Dawud, 4782]

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang bisa menahan amarah dan tidak melampiaskannya pada hal-hal yang justru mendatangkan madharat, aamiiiin.

Demikianlah cara meredam amarah menurut Islam yang dapat kami sampaikan, wallahu a’lam.

Leave a Reply