Adab dan Doa Malam Pertama Pengantin

Salah satu hal yang sangat penting dalam syariat Islam tetapi jarang diketahui adalah doa malam pertama. Bacaan ini perlu diperhatikan karena pengaruhnya sangat besar terhadap keturunan jika diberikan oleh Allah taala. Apa itu?

Simak penjelasannya berikut ini. Sebelumnya kita bahas dulu mengenai adabnya.  

Adab Malam Pertama

Agama Islam adalah aturan hidup yang sangat sempurna. Ia mengatur segala aspek. Tujuannya adalah agar kehidupan manusia benar-benar berjalan dengan baik dan benar dan mendatangkan banyak kemaslahatan duniawi dan ukhrawi.

Termasuk dalam urusan yang diatur oleh Islam adalah masalah jima’ atau hubungan pasutri. Sesuatu yang halal dilakukan oleh suami istri ini juga terdapat adab dan aturannya agar memiliki efek yang baik.

Setelah sepasang suami istri menjadi halal dengan akad nikah, ada beberapa adab yang yang perlu diperhatikan menurut ajaran Islam. Adab ini biasa dikenal dengan fiqh jima.

Berikut penjelasan urutan sebelum melakukan hubungan intim yang benar atau sesuai sunnah. Terlebih kepada para suami, disamping mereka harus menghafalkan doa malam pertama, mereka juga harus benar-benar memperhatikan adab-adab berikut ini.

Bersikap Lemah Lembut

Disukai bagi seorang suami ketika mulai bersendiri dengan istrinya di malam pertama untuk bersikap lemah lembut. Bagus juga apabila dia membawakan sesuatu seperti minuman untuk istrinya. Sebagaimana hadits Asma binti Yazid, dia berkata:

إني قينت عائشة لرسول الله صلى الله عليه وسلم ثم جئته فدعوته لجلوتها فجاء فجلس إلى جنبها فأتي بعس لبن فشرب ثم ناولها النبي صلى الله عليه وسلم

“Sesungguhnya aku merias Aisyah untuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian aku mendatangi beliau. Aku meminta beliau untuk melihatnya, lalu beliau datang. Beliau duduk di sisinya (Aisyah). Lalu didatangkan kepada beliau dengan sewadah besar susu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam minum kemudian memberikan kepadanya (Aisyah).” [Hr. Ahmad]

Shalat Sunnah 2 Rakaat Bersama

Lakukan shalat 2 rakaat secara berjamaah dengan suami sebagai imam dan istri sebagai makmum. Amalan ini mengambil contoh dari perbuatan ulama salaf.

Pertama, atsar Abu Said.

Beliau berkata: aku menikah saat masih menjadi budak. Maka aku mengundang beberapa sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pada mereka ada Ibnu Mas’ud, Abu Dzar, dan Hudzaifah. Lalu tibalah waktu shalat.

Saat Abu Dzar akan maju (untuk menjadi imam), mereka berkata: Kamulah (Abu Said) yang berhak! Ia (Abu Dzar) berkata: Apakah benar demikian? Mereka berkata: Betul. Aku pun maju di hadapan mereka padahal saat itu aku seorang budak.

Mereka juga mengajariku. Mereka berkata: Apabila isterimu telah datang menemuimu, maka shalatlah dua rakaat. Kemudian mohonlah kepada Allah akan kebaikan apa yang datang atasmu dan berlindunglah kepada Allah dari kejelekannya. Kemudian terserah engkau dan istrimu. [Adabuz Zifaf, 94]

Kedua, atsar Syaqiq

Dia bercerita: Ada seorang lelaki bernama Abu Hariz datang dan berkata: Sesungguhnya aku telah menikah dengan seorang gadis muda dan aku khawatir dia marah kepadaku. Maka berkatalah Abdullah bin Masud: Sesunggunya cinta itu dari Allah dan kebencian itu dari setan. Setan ingin membuat kalian benci akan sesuatu yang telah Allah halalkan untuk kalian. Maka, apabila dia telah datang kepadamu, perintahkanlah dia untuk shalat 2 rakaat di belakangmu.

Dalam riwayat lain dari Ibnu Masud ada tambahan: Dan ucapkanlah:

Allahumma baarik lii fi ahli wa baarik lahum fii. Allahummajma’ bainana maa jama’ta bikhoir. Wa farriq bainana idza farroqta ilaa khoir.

Ya Allah, berkahilah untukku pada istriku dan berkahilah untuk mereka padaku. Ya Allah, kumpulkanlah kami selagi Engkau kumpulkan pada kebaikan dan pisahkanlah kami apabila Engkau pisahkan kepada kebaikan.” [Adabuz Zifaf, 95-96]

Bagaimanakah hukum shalat sebelum berhubungan intim ini?

Ulama menjelaskan, tidak ada dalil shahih yang sampai kepada Rasulullah mengenai perbuatan ini. Sehingga, bagi orang yang ingin mengamalkannya karena meniru ulama, maka dipersilakan. Adapun orang yang ingin meninggalkannya juga dipersilakan.

Meletakkan Tangan di Atas Ubun-Ubun Istri

Banyak saudara kita yang keliru dengan melakukannya langsung setelah akad nikah selesai. Padahal, yang benar adalah dilakukan ketika suami istri telah bersendiri di kamar.

Caranya adalah suami meletakkan tangannya di atas ubun-ubun istri kemudian membaca doa :

Bacaan Arab:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ

Bacaan Latin:

Allahumma inni as`aluka khoiroha wa khoiro ma jabaltaha alaih. Wa audzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaih

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau akan kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau cipta dia di atasnya. Dan sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau cipta dia di atasnya.

Dalil dari amalan ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kakek ‘Amr bin Syuaib meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً أَوِ اشْتَرَى خَادِمًا، فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ، وَإِذَا اشْتَرَى بَعِيرًا فَلْيَأْخُذْ بِذِرْوَةِ سَنَامِهِ وَلْيَقُلْ مِثْلَ ذَلِكَ». قَالَ أَبُو دَاوُدَ: زَادَ أَبُو سَعِيدٍ، ثُمَّ لِيَأْخُذْ بِنَاصِيَتِهَا وَلْيَدْعُ بِالْبَرَكَةِ فِي الْمَرْأَةِ وَالْخَادِمِ

Apabila salah seorang dari kalian menikah dengan seorang wanita atau membeli budak, hendaklah dia mengucapkan: allahumma inni as`aluka khoiroha wa khoiro ma jabaltaha alaih. Wa audzubika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha alaih. Dan apabila dia membeli unta, hendaklah dia memegang tali kekangnya dan berdoa semisal itu.” [Hr. Abu Dawud] Abu Dawud berkata: Abu Said menambahkan: Kemudian hendaklah dia memegang ubun-ubunnya dan memintakan berkah pada wanita dan budak.

Doa Malam Pertama 

Hendaklah dia membaca doa sebelum hubungan intim berikut ini:

doa malam pertama
gambar doa bersenggama

Lafal Arab

بسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنا الشَّيْطانَ وجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا

Lafal Latin

Bismillah, allahumma janibnasyaithana wa janibnisyaithanamarazaqtana

Terjemahan

Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau beri rezeki (anak) kepada kami.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ، وَقَالَ: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَرُزِقَا وَلَدًا لَمْ يَضُرَّهُ الشَّيْطَانُ

“Apabila salah seorang dari kalian ketika mendatangi istrinya dan mengucapkan: Bismillah, Allahumma jannibnasy Syaithona wa jannibisy syaithona ma rozaqtana , lalu kedua diberi rezeki seorang anak, maka setan tidak akan membahayakannya.” [Hr. Al-Bukhari]

Sebagai tambahan, seorang ulama bernama Ibnul Munkadir menambahi doa dengan bacaan berikut:

اللهم قو ذكري فإنه منفعة لأهلي

“Ya Allah, Kuatkanlah dzakarku karena padanya ada manfaat untuk istriku.” [Faidlul Qadir 4/110]

Baca Juga: Bacaan Doa Penenang Hati

Larangan dalam Jima

Seorang istri pada asalnya memang halal untuk dikumpuli suaminya. Akan tetapi, sifat kehalalannya tidaklah mutlak sehingga seorang suami boleh sembarangan dalam melakukannya. Sebaliknya, ada aturan yang harus diketahui agar tidak terjerumus kepada perbuatan yang melanggar perintah Allah taala:

Seorang suami dilarang mengumpuli istrinya pada 2 hal, yaitu:

Mengumpuli Lewat Dubur

Penetrasi melalui dubur merupakan sesuatu yang diharamkan dalam Islam. Tidak hanya itu, pelakunya juga mendapatkan ancaman yang sangat keras. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

“Terlaknatlah seorang suami yang mendatangi istrinya pada duburnya.” [Hr. Abu Dawud]

Berhubungan Intim Saat Haid

Allah taala berkalam:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang masalah haid. Katakanlah, dia adalah gangguan, maka singkirilah istri-istri pada waktu haid. Dan janganlah kalian mendekati (mengumpuli) mereka sampai mereka suci. Dan apabila mereka telah suci, maka datangilah mereka dari arah yang Allah telah perintahkan kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang suka bertaubat dan suka bersuci.” [Qs. Al-Baqarah (2) : 222]

Demikianlah tata cara atau adab dan doa malam pertama dalam syariat islam agar anda dapat menjalaninya dengan benar sesuai sunnah, wallahu a’lam.