Etika Ziarah Kubur Disertai Bacaan Doa Singkat

Ziarah Kubur dan Bacaan Doa Singkat – Di awal Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari perbuatan ini. Namun, beberapa waktu kemudian beliau memperbolehkannya. Beliau bersabda:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka (sekarang) ziarahlah kalian kepadanya.” [Hr. Muslim]

Ziarah Kubur

Frasa ini adalah berasal dari bahasa Arab زيارة القبور (latin: ziaroh al qubur). Ziaroh artinya mengunjungi, sedangkan al qubur artinya kuburan. Berziarak ke makam orang tua artinya adalah mengunjungi makam kedua orang tua.

Menurut masyarakat kita di Indonesia, kebanyakan orang melakukan amalan ini pada bulan Ramadan atau saat hari raya sebelum menjelang Idul Fitri.

Padahal, dalam ajaran Islam tidak ada pengkhususan waktu seperti itu. Anda boleh melakukannya kapan saja ketika anda memiliki kesempatan.

Dalam kesempatan kali ini, kita akan membahasnya sesuai sunnah dalam pandangan Islam.

ziarah kubur
Baqi Al Ghargad, kuburan tertua dimana terdapat makam sahabat nabi [youtube.com]

Tujuan Berziarah

Ada 2 tujuan utama ketika seseorang melakukan ziarah, yaitu:

1. Tujuan yang manfaatnya kembali kepada orang yang berziarah

Supaya bisa merenung dan meningat kematian. Bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara dan pada akhirnya semua akan kembali ke akhirat yang abadi. Supaya seorang muslim lebih bersemangat dalam beribadah untuk bekal kembali kepada Allah.

Beliau bersabda:

فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Karena sesungguhnya dalam mengunjunginya itu ada pengingat.” [Hr. Abu Dawud]

2. Tujuan yang manfaatnya kembali kepada mayit

Supaya mayit mendapat doa dari orang yang berziarah kepadanya. Apalagi doa seorang anak kepada orang tua yang sudah meninggal, sangat bermanfaat sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah darinya pahala amalannya kecuali dari 3 perkara: Kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang diambil manfaat dengannya, atau seorang anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.” [Hr. Muslim]

Mengenai 3 kebaikan yang masih mengalir meskipun seseorang sudah mati ini, saya sudah buatkan artikel khusus. Baca: 3 amalan yang dibawa mati.

Etika Ziarah Kubur dalam Islam

Pada asalnya, mengunjungi kubur hukumnya sunnah. Namun, jika ditujukan untuk mencari wangsit atau mendapat berkah hukumnya haram, karena hal ini termasuk bidah yang tidak diajarkan oleh Nabi.

Niat ketika melakukan sunnah ini harus sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau.

Berikut telah kami rangkum tata cara ziarah kubur sesuai sunnah.

1. Mengingat Tujuan

Sebagaimana telah kami jelaskan sebelumnya, tujuan amalan ini adalah agar kita lebih mengingat kepada kematian. Jangan sampai ketika kita melakukan perbuatan ini, kita justru berniat untuk tabarruk (mencari berkah).

Banyak orang yang tidak memiliki ilmu kemudian datang ke makam para wali dengan niat selain ingat mati. Hal ini tidak ada ajarannya dalam agama Islam.

2. Mengucapkan Salam saat Memasuki Kuburan

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari para sahabat yang akan berkunjung ke kuburan untuk mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا، إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

BACAAN LATIN: ASSALAMUALAIKUM AHLAD DIYAR, MINAL MU`MINIINA WAL MUSLIMIN, WA INNA INSYA ALLAHU LALAAHIQUN. AS`ALULLAHA LANA WA LAKUMUL AFIYAH

“Keselamatan atas kalian wahai penghuni kampung (kuburan) dari orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Dan kita insya Allah pasti bertemu. Aku memohon kepada Allah untuk kami dan untuk kalian akan al-afiyah.” [Hr. Muslim]

3. Melepas Sandal Sebelum Memasuki Kuburan

Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sedang lewat di sebuah pekuburan, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang berjalan di antara kuburan dengan memakai sandal. Beliau pun mengingatkan:

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ

“Hai pemilik sandal, celaka kamu. Lepaslah sandalmu.”

Maka orang itu menoleh. Dan ketika ia mengetahui bahwa yang mengingatkan adalah Rasulullah, maka dia segera melepas sandalnya. [Hr. Abu Dawud]

4. Dilarang Menginjak Kuburan, Apalagi Duduk di Atasnya

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh bahwasanya salah satu dari kalian duduk di atas bara api hingga bajunya terbakar, lalu ia menembus kulitnya, (maka hal itu) lebih baik daripada duduknya di atas sebuah kuburan.” [Hr. Muslim]

5. Larangan Al Hujr

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَزُورَ فَلْيَزُرْ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Dan aku dahulu melarang kalian dari ziarah kubur. Maka barang siapa ingin mengunjungi, hendaklah dia mengunjungi. Dan janganlah kalian mengucapkan al hujr.” [Hr. An-Nasai]

Al-Hujr artinya adalah ucapan yang buruk [Al-Istidzkar 5/232]

Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan: Dan tidaklah samar bahwa apa yang dilakukan oleh orang-orang awam dan selain mereka saat berziarah dari doa pada mayit, istighotsah dengannya, dan memohon kepada Allah dengan perantaranya sungguh itu adalah termasuk dari paling besarnya al hujr dan ucapan yang batil.

Maka wajib atas ulama untuk menerangkan bagi mereka tentang hukum Allah pada masalah itu dan memahamkan mereka perihal ziarah yang disyariatkan dan tujuan darinya. [Ahkamul Janaiz 1/179]

6. Boleh Menangis tapi Dilarang Meratap

Menangis atas meninggalnya orang yang disayangi diperbolehkan dalam Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri juga melakukannya.

Anas bin Malik radliyallahu anhu bercerita bahwa ketika Ibrahim wafat, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berlinang air mata. Ketika Abdurrahman bin Auf radliyallahu anhu bertanya tentangnya, beliau menjawab:

يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ

“Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya ia adalah tanda kasih sayang.”

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan:

إِنَّ العَيْنَ تَدْمَعُ، وَالقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلاَ نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ

“Sesungguhnya mata berlinang, hati menjadi sedih, dan kita tidak berkata kecuali apa yang Rabb kita ridlo dengannya. Dan sesungguhnya kami dengan perpisahan denganmu wahai Ibrahim, sungguh adalah orang-orang yang bersedih.” [Muttafaqun alaih]

Adapun meratap, berteriak-teriak, menangis histeris, mencakar-cakar pipi, merobek baju, maka ini tidak dibenarkan dalam Islam.

7. Haram Berdoa untuk Orang Kafir agar Diampuni Dosanya

Allah taala berkalam:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ . وَمَا كَانَ اسْتِغْفَارُ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَنْ مَوْعِدَةٍ وَعَدَهَا إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ أَنَّهُ عَدُوٌّ لِلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ

“Tidaklah pantas bagi seorang Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampun bagi orang-orang musyrik meskipun mereka adalah orang yang memiliki hubungan kerabat setelah jelas bagi mereka bahwasanya mereka adalah para penghuni neraka jahim (113) Dan tidaklah istighfar (permintaan ampun) Nabi Ibrahim untuk bapaknya kecuali karena janji yang telah beliau janjikan kepadanya. Maka tatkala telah menjadi jelas bagi beliau bahwasanya dia adalah musuh bagi Allah, maka beliau pun berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi sangat santun.” [Qs. At-Taubah (9) : 113-114]

Bacaan Doa ketika Berziarah

Sebagaimana telah disebutkan di atas, doa yang bisa kita baca saat berziarah adalah membaca bacaan latin berikut:

ASSALAMUALAIKUM AHLAD DIYAR, MINAL MU`MINIINA WAL MUSLIMIN, WA INNA INSYA ALLAHU LALAAHIQUN. AS`ALULLAHA LANA WA LAKUMUL AFIYAH

Demikianlah adab ketika sedang berziarah, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah .

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.