Pengertian Hadits Qudsi

Istilah hadits qudsi sebenarnya telah dikenal secara luas sejak dahulu. Namun, ternyata masih banyak juga saudara kita yang belum mengetahui perihal hadits ini.

Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas pengertian, ciri ciri, kedudukan, serta perbedaan hadits qudsi dan alquran. Semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan sekaligus kebaikan kita semua, amin.

Pengertian Hadits Qudsi

Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu hadits dan qudsi.

Hadits secara bahasa artinya adalah pembicaraan. Adapun secara istilah artinya adalah apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari ucapan, perbuatan, ketetapan, atau sifat.

Adapun qudsi secara bahasa artinya adalah suci. Ia disebut demikian karena penisbatannya kepada Dzat yang salah satu dari asmaul husna-Nya adalah Al-Quddus, Yang Mahasuci.

Mengenai pengertiannya secara istilah, hadits qudsi adalah:

ما نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم، مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل

“Apa-apa yang dinukil dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sanad beliau sendiri kepada Pemelihara beliau azza wa jalla.” [Taisir Musthalah Hadits, 158]

Selain dikenal sebagai hadits qudsi, hadits ini juga dikenal dengan sebutan hadits ilahiyah atau hadits rabbaniyah.

Penggunaan istilah hadits ilahiyah diantaranya digunakan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar [Faidlul Qadir 4/468]. Adapun istilah hadits rabbaniyah diantaranya digunakan oleh Jalaludin Al-Mahalli, salah satu penulis tafsir Jalalain [Hasyiyatul Aththar ala Syarhil Mahalli].

Jika kita membahas mengenai segi jumlah, hadits ini jumlahnya tidak begitu banyak jika dibandingkan dengan jumlah hadits nabawi. Jumlah keseluruhannya sekitar 200 hadits yang diketahui.

Hadits ini juga dapat digunakan sebagai dasar agama. Namun, kedudukannya sama dengan hadits nabawi. Sehingga, apabila kita akan mengambil hukum agama darinya, kita perlu memilah yang shahih dari yang dlaif.

Apabila hadits itu shahih, maka boleh digunakan sebagai dasar. Namun, apabila ia merupakan hadits yang lemah, maka ia tidak bisa digunakan.

Ciri Ciri Hadits Qudsi

Ciri-ciri yang bisa kita gunakan untuk mengetahui bahwa suatu hadits adalah hadits qudsi adalah dari segi periwayatannya. Ada dua bentuk periwayatan hadits ini sebagaimana dijelaskan oleh ulama. Bentuknya adalah sebagai berikut:

1. Periwayatan dengan kalimat aktif

Pada periwayatan ini, di akhir sanad, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

قال الله تعالى

“Allah taala berkalam”

Selain dengan kalimat itu, ada kalimat-kalimat lain yang semisal dan intinya bahwa Nabi bersabda bahwa Allah berkalam.

2. Dengan kalimat pasif

Dalam hal ini, seorang rawi dari sahabat mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dari apa yang beliau riwayatkan dari Pemeliharanya azza wa jalla.” 

Contoh Hadits Qudsi

Di antara contohnya adalah sebagai berikut:

Hadits Qudsi Saling Cinta Karena Allah

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Sesungguhnya Allah berkalam di hari Kiamat: Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku akan menaungi mereka pada naungan-Ku dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” [Hr. Muslim]

Hadits Qudsi Tentang taubat

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwa Allah taala berkalam:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Wahai hamba-hambaKu, sesungguhnya kalian berbuat salah di waktu malam dan siang, sedangkan Aku mengampuni dosa-dosa semuanya. Maka minta ampunlah kepadaku, niscaya Aku ampuni untuk kalian.”

Hadits Qudsi Tentang Dialog Surat Al Fatihah

Termasuk dari contohnya juga adalah hadits berikut:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الفاتحة: 2]، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الفاتحة: 1]، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الفاتحة: 5] قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Allah taala berkalam: Aku membagi shalat di antara Aku dan hambaKu menjadi 2 bagian, dan bagi hambaKu apa yang dia minta.

Apabila seorang hamba membaca: “Alhamdulillahi robbil alamin”. Allah taala berkalam: “HambaKu telah memujiKu”.

Apabila dia membaca: “Ar Rahmanir Rahiim”. Allah taala berkalam: “HambaKu telah menyanjungKu.”

Apabila dia membaca: “Maliki yaumid diin”. Dia berkalam: “HambaKu telah mengagungkanKu”. Dalam satu kesempatan, beliau mengatakan, “HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu.”

Apabila dia membaca: “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”. Dia berkalam: “Ini adalah (batas) antara Aku dan hambaKu, dan untuk hambaKu apa yang dia minta.”

Apabila dia membaca: “Ihdinash shirathal mustaqiim. Shirathalladzina an’amta alaihim. Ghairil maghdubi alaihim waladl  dlaalliin.” Dia berkalam: “Ini adalah untuk hambaKu. Dan bagi hambaKu apa yang dia minta.”

Hadits Qudsi Wahai Anak Adam

Imam Muslim menulis dalam kitab shahih beliau:

قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

“Allah tabaraka wa taala berkalam: Wahain anak adam, berinfaklah. Maka aku akan berinfak juga kepadamu.”

Perbedaan Hadits Qudsi dan Alquran

Pada asalnya, ada banyak perbedaan antara hadits ini dan al quran. Adapun yang paling masyhur, perbedaannya adalah sebagai berikut:

Segi Lafal dan Makna

Lafal dan makna alquran adalah dari Allah. Adapun hadits ini maknanya dari Allah dan lafalnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Hanya saja, dalam masalah ini para ulama tidak bersepakat. Karena sebagian mereka mengatakan bahwa hadits qudsi lafal dan maknanya juga dari Allah taala.

Segi Bacaan

Membaca alquran dianggap sebagai ibadah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan membaca al quran:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya ada pahala dengannya. Dan pahala itu dengan 10 kali yang semisalnya. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim adalah satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [Hr. At Tirmidzi]

Adapun perihal membaca hadits ini, tidak ada dalil yang menujukkan keutamaan satu hurufnya.

Segi Syarat Validitas 

Dalam menentukan bahwa suatu bacaan disebut sebagai alquran, maka ini harus didasari hadits mutawatir. Adapun untuk menetapkan hadits sebagai hadits qudsi tidak perlu mutawatir.

Oleh karena itu, mempercayai keabsahan al quran adalah mutlak. Adapun untuk mempercayai keabsahan hadits ini perlu memilah antara yang shahih dari yang dlaif.

Segi Kedudukan Sebagai Mukjizat

Al-Quran adalah mukjizat yang telah Allah turunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Setiap ayat bahkan hurufnya merupakan tanda kebesaran Allah taala. Adapun hadits qudsi bukan merupakan mukjizat.

Segi Bolehnya Dibaca dalam Sholat

Al Quran dapat dibaca dalam sholat. Bahkan Allah taala memberi perintah akan hal tersebut. Dia berkalam:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari sebagian darinya (Al Quran).” [Qs. Al Muzammil (73) : 20]

Adapun hadits qudsi, ia tidak boleh dibaca dalam sholat.

Segi Tantangan untuk Pembuatan Tandingan

Sebagai bukti kebenaran Al Quran, Allah taala sampai memberi tantangan kepada orang-orang yang tidak beriman agar membuat sesuatu semisalnya. Sebagaimana kalam-Nya:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

“Dan jika kalian berada dalam keraguan dari apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah dengan satu surat yang semisalnya.” [Qs. Al Baqarah (2) : 23]

Adapun kepada hadits qudsi ini, adalah Allah tidak pernah membuat tantangan untuk membuat sesuatu semisalnya.

Segi Cara Sampainya Kepada Nabi

Allah taala menurunkan al Quran melalui perantara malaikat jibril. Adapun ketika memberikan wahyu berupa hadits ilahiyah, bisa melalui jibril, atau bisa langsung tanpa perantara seperti lewat mimpi.

Segi Kekuatannya

Setiap ayat dari al Quran adalah benar, tidak ada keraguan padanya, dan wajib diterima karena riwayatnya mutawatir. Adapun hadits rabbaniyah perlu ditinjau, apakah ia shahih, hasan, atau dlaif.

Segi Kesakralannya

Setiap huruf dalam al Quran adalah bersifat sakral. Orang yang mengingkarinya bisa tergolong kafir. Adapun hadits qudsi tidak demikian karena sebagaimana telah kami sebutkan, ada yang shahih, hasan, dan dlaif.

Segi Penyampaian 

Ketika menyampaikan al quran, tidak boleh menambah atau mengurangi satu huruf pun. Sedangkan hadits qudsi boleh disampaikan secara makna.

Buku yang Membahas Hadits Qudsi

Jika anda ingin mengenal lebih jauh mengenai hadits qudsi, maka kitab Al-Ithafat As-Saniyyah bi Al-Ahadits Al-Qudsiyyah susunan ‘Abdur Ra`uf Al-Munawi dapat anda pelajari. Dalam kitab ini, terdapat kumpulan 272 hadits.

Demikianlah penjelasan mengenai ciri ciri, kedudukan, serta perbedaan hadits qudsi dan alquran, wallahu a’lam.