Perbedaan Hadits Qudsi dan Al Quran

Dalam ilmu hadits, kita mengenal hadits qudsi. Salah satu contohnya adalah hadits tentang cinta karena Allah berikut ini:

إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي

“Sesungguhnya Allah berkalam di hari Kiamat: Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini aku akan menaungi mereka pada naungan-Ku dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” [Hr. Muslim]

Banyak juga saudara kita yang belum mengetahui perihal hadits ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kita akan membahas ciri ciri, kedudukan, serta perbedaan hadits qudsi dan alquran.

Apa Itu Hadits Qudsi?

Istilah ini terdiri dari dua kata, yaitu hadits dan qudsi.

Hadits secara bahasa artinya adalah pembicaraan. Adapun secara istilah artinya adalah apa-apa yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari ucapan, perbuatan, ketetapan, atau sifat. Adapun qudsi secara bahasa artinya adalah suci.

Ia disebut demikian karena penisbatannya kepada Dzat yang salah satu dari asmaul husna-Nya adalah Al-Quddus, Yang Mahasuci.

Adapun pengertiannya secara istilah adalah:

ما نقل عن النبي صلى الله عليه وسلم، مع إسناده إياه إلى ربه عز وجل

“Apa-apa yang dinukil dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan sanad beliau sendiri kepada Pemelihara beliau azza wa jalla.” [Taisir Musthalah Hadits, 158]

Jumlahnya

Hadits ini jumlahnya tidak begitu banyak dibanding dengan jumlah hadits nabawi. Jumlah keseluruhannya sekitar 200 hadits.

Ciri Ciri Periwayatan Hadits

Ada dua bentuk periwayatan hadits ini sebagaimana dijelaskan oleh ulama. Bentuknya adalah sebagai berikut:

1. Periwayatan dengan kalimat aktif

Pada periwayatan ini, di akhir sanad, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

قال الله تعالى

“Allah taala berkalam”

Selain dengan kalimat itu, ada kalimat-kalimat lain yang semisal dan intinya bahwa Nabi bersabda bahwa Allah berkalam.

2. Dengan kalimat pasif

Dalam hal ini, seorang rawi dari sahabat mengatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه عز وجل

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dari apa yang beliau riwayatkan dari Pemeliharanya azza wa jalla.”

Kedudukan Hadits Sebagai Dasar Agama

Hadits qudsi adalah hadits sebagaimana hadits nabawi. Sehingga, apabila kita akan mengambil hukum agama darinya, kita perlu memilah yang shahih dari yang dlaif.

Apabila hadits itu shahih, maka boleh digunakan sebagai dasar. Namun, apabila ia merupakan hadits yang lemah, maka ia tidak bisa digunakan.

Perbedaan Hadits Qudsi dan Alquran

Pada asalnya, ada banyak perbedaan antara hadits ini dan al quran. Adapun yang paling masyhur, perbedaannya adalah sebagai berikut:

1. Lafal dan Makna

Lafal dan makna alquran adalah dari Allah. Adapun hadits ini maknanya dari Allah dan lafalnya dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Hanya saja, dalam masalah ini para ulama tidak bersepakat. Karena sebagian mereka mengatakan bahwa hadits qudsi lafal dan maknanya juga dari Allah taala.

2. Bacaan

Membaca alquran dianggap sebagai ibadah. Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang keutamaan membaca al quran:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya ada pahala dengannya. Dan pahala itu dengan 10 kali yang semisalnya. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim adalah satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” [Hr. At Tirmidzi]

Adapun perihal membaca hadits ini, tidak ada dalil yang menujukkan keutamaan satu hurufnya.

3. Penetapan Keberadaan

Dalam menentukan bahwa suatu bacaan disebut sebagai alquran, hal ini harus didasari hadits mutawatir. Adapun untuk menetapkan hadits sebagai hadits qudsi tidak perlu mutawatir.

Oleh karena itu, mempercayai keabsahan al quran adalah mutlak. Adapun untuk mempercayai keabsahan hadits ini perlu memilah antara yang shahih dari yang dlaif.

4. Sebagai Mukjizat

Al-Quran adalah mukjizat yang telah Allah turunkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Setiap ayat bahkan hurufnya merupakan tanda kebesaran Allah taala. Adapun hadits qudsi bukan merupakan mukjizat.

5. Dibaca dalam Sholat

Al Quran dapat dibaca dalam sholat. Bahkan Allah taala memberi perintah akan hal tersebut. Dia berkalam:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Maka bacalah oleh kalian apa yang mudah dari sebagian Al Quran.” [Qs. Al Muzammil (73) : 20]

Adapun hadits qudsi, ia tidak boleh dibaca dalam sholat.

6. Tantangan untuk Pembuatan Tandingan

Sebagai bukti kebenaran Al Quran, Allah taala sampai memberi tantangan kepada orang-orang yang tidak beriman agar membuat sesuatu semisalnya. Sebagaimana kalam-Nya:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ

“Dan jika kalian berada dalam keraguan dari apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah dengan satu surat yang semisalnya.” [Qs. Al Baqarah (2) : 23]

Adapun kepada hadits ini, Allah tidak pernah membuat tantangan untuk membuat sesuatu semisalnya.

Demikianlah penjelasan mengenai ciri ciri, kedudukan, serta perbedaan hadits qudsi dan alquran, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.