Ayat dan Hadits Tentang Sabar dan Keutamaannya

Simak penjelasan tentang dalil dari ayat dan hadits yang membahas tentang sabar beserta tulisan arabnya berikut ini. Semoga Allah memberikan karunia kepada kita berupa kesabaran dalam menjalani ibadah hingga akhir hayat kita nanti, amin.

Baca juga: Hadits tentang Persaudaraan

Ayat dan Hadits Tentang Sabar dan Keutamaannya

Dalam menjalani hidup di dunia, kita akan menemui berbagai macam cobaan atau masalah. Kunci dari kesuksesan menjalani ujian dari Allah adalah membaca doa penenang hati, dzikir agar masalah cepat selesai, dan melazimi kesabaran.

Sabar yang dikenal syariat Islam terbagi menjadi 3, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An Nawawi:

وَهُوَ الصَّبْرُ عَلَى طَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَالصَّبْرُ عَنْ مَعْصِيَتِهِ وَالصَّبْرُ أَيْضًا عَلَى النَّائِبَاتِ وَأَنْوَاعِ الْمَكَارِهِ فِي الدُّنْيَا

“Dia adalah sabar atas ketaatan kepada Allah taala, sabar dari durhaka (maksiat) terhadap-Nya, dan sabar juga atas cobaan-cobaan dan atas hal-hal yang tidak disukai di dunia.” [Syarh Nawawi ala Muslim 3/101]

Salah satu ayat yang menjadi bukti bahwa sabar adalah kunci dalam menghadapi ujian salah satunya adalah kalam Allah taala yang sudah masyhur di kalangan kita:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang mengaku beriman! Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan (sarana) sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” [Qs. Al Baqarah (2) : 153]

Oleh karena pentingnya masalah sabar ini, mari kita bahas dalil-dalil dari ayat dan hadits yang membahas tentang masalah sabar.

1. Sabar yang Benar

Banyak orang mengatakan bahwa dia bersabar atas ujian yang sedang dia hadapi, padahal sebelumnya dia meratapi ujian tersebut. Bentuk sabar yang seperti ini adalah salah.

Seorang wanita meratap di dekat kubur anaknya di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika melihat ratapan wanita tersebut, Nabi menasehatinya agar bersabar.

Akan tetapi, si wanita malah menolak karena tidak mengetahui bahwa yang menasehati adalah Nabi. Dia beralasan karena orang yang menasehatinya tidak mengalami apa yang dia alami.

Setelah diberitahu oleh seorang sahabat bahwa itu adalah Nabi, si wanita mengejar beliau dan mengatakan bahwa dia bersabar. Tetapi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda dengan jawaban yang pendek:

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Sesungguhnya sabar (yang benar) itu adalah pada hantaman yang pertama.” [Muttafaqun alaih]

2. Sabar dan Syukur, Tindakan yang Paling Baik

Menjadi seorang muslim yang menjalankan ajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam memiliki kelebihan tersendiri. Setiap kondisi yang dia lewati dalam kehidupannya memiliki poin pahala dan merupakan sikap yang terbaik.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Aku heran terhadap perkaranya orang beriman. Sesungguhnya perkarannya semuanya baik dan itu tidak ada pada seorangpun kecuali orang beriman. Jika dia terkena kesenangan, dia syukur. Maka itu yang terbaik baginya. Dan jika terkena kesusahan, dia sabar. Maka itu yang terbaik baginya.” [Hr. Muslim]

3. Menjadi Orang yang Sabar, Karunia Terbaik

Sebagian dari saudara-saudara kita merasa puas dan bangga ketika sedang marah, dia mampu melampiaskan kemarahannya.

Padahal, meski melampiaskan kemarahan itu tidak dilarang – selagi tetap dalam koridor syariat -, menahan amarah dan menjadi orang yang sabar itu lebih baik.

Abu Said Al Khudry radliyallahu anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا أُعْطِىَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْراً وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Tidaklah seseorang diberi karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” [Muttafaqun alaih]

4. Sabar Menghadapi Cobaan

Ada orang yang mencela Islam dengan mengatakan bahwa anggapan tentang ujian orang Islam itu adalah bentuk kecintaan Allah merupakan utopia belaka.

Saya tidak begitu menggubrisnya karena dia tidak mengenal Islam dengan baik, bahkan saya pun tidak yakin kalau dia bisa membaca al quran.

At-Tirmidzi dalam kitabnya menyebutkan sebuah hadits:

إِنَّ عِظَمَ الْجزاءِ مَعَ عِظَمِ الْبلاءِ، وإِنَّ اللَّه تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوماً ابتلاهُمْ، فَمنْ رضِيَ فلَهُ الرضَا، ومَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu bersamaan dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya bila Allah jatuh cinta kepada suatu kaum, Dia memberikan cobaan kepada mereka. Siapa sabar, baginya keridloan. Siapa marah, baginya kemurkaan.” [Hr. At-Tirmidzi]

5. Seorang Penyabar adalah Manusia Terkuat

Biasanya, orang yang menahan diri dari melampiaskan amarah dan tidak mau membalas orang yang membuatnya marah dianggap sebagai orang yang cemen atau lemah.

Padahal sebaliknya, dalam Islam dia merupakan orang yang paling kuat diantara manusia yang ada.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشديدُ بالصُّرَعةِ إِنمَّا الشديدُ الَّذي يمْلِكُ نَفسَهُ عِنْد الْغَضَبِ

“Orang yang kuat itu bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya tiada lain orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” [Muttafaqun alaih]

Salah satu tips agar mampu untuk mengendalikan amarah adalah dengan membaca taawudz. Pernah ada seorang sahabat yang marah di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda:

لوْ قَالَ: أَعْوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ذَهَبَ منْهُ مَا يجدُ

“Kalaulah dia mengatakan: ‘audzu billahi minasy syaithanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk)’ pasti hilang darinya apa yang dia dapati (kemarahannya).” [Muttafaqun alaih]

6. Sabar adalah Cahaya

Orang yang selalu melazimi kesabaran adalah orang yang baik. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الصَّبْرُ ضِيَاءٌ

“Sabar itu adalah cahaya.” [Hr. Muslim]

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah sabar yang syar’i, yaitu sabar atas ketaatan, sabar dari maksiat, dan sabar atas musibah, itu adalah terpuji. Orang yang mengamalkannya selalu mendapat penerang dan petunjuk agar selalu berada di atas kebenaran. [Syarh Nawawi 3/101]

7. Berpahala Surga ketika Ikhlas

Semoga hadits ini bisa menjadi sebuah motivasi bagi orang tua yang telah kehilangan anaknya karena lebih dahulu dipanggil oleh Allah.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah taala berkalam:

مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبهُ إِلاَّ الجَنَّة

“Tidaklah bagi hamba-Ku yang beriman di hadapanku ada balasan apabila aku mengambil kekasihnya dari penduduk dunia kemudian dia berharap (pahala) darinya kecuali surga.” [Hr. Al Bukhari]

Dalam riwayat yang lain yang juga merupakan hadits qudsi, ada sunnah yang jarang diamalkan. Sunnah itu adalah membaca hamdalah ketika salah seorang dari keluarganya meninggal.

Ketika seseorang mengucapkan hamdalah pada kondisi itu, Allah taala berkalam:

ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ

“Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan berilah ia nama dengan rumah pujian.” [Hr. At Tirmidzi]

8. Penghapus Dosa

Melazimi kesabaran menjadi salah satu amalan penghapus dosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَن وَلاَ أَذًى وَلاَ غمٍّ، حتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُها إِلاَّ كفَّر اللَّه بهَا مِنْ خطَايَاه

“Tidaklah menimpa seorang muslim dari rasa capek, rasa sakit, kecemasan, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, hingga duri yang mengenainya kecuali pasti Allah hapus dengannya dari dosa-dosanya.” [Muttafaqun alaih]

Demikianlah apa yang dapat kami tuliskan mengenai dalil dari ayat dan hadits tentang sabar, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.