Hukum Aqiqah Anak + 15 Hal yang Terkait

Hukum Aqiqah – Akikah atau dalam bahasa Arab disebut عقيقة merupakan sebuah walimah atau perayaan dengan menyembelih kambing untuk bayi yang baru lahir.

Amalan ini ada syariatnya dalam Islam. Simak selengkapnya berikut ini.

Syariat Aqiqah dalam Islam

Berikut ini kita bahas seputar syariat aqiqah dalam Islam:

Nasikah, Nama Lain Aqiqah

Sebagian ulama memilih nama nasikah (sembelihan) daripada nama ‘aqiqah (pemotongan).

Mereka berdalil dengan hadits:

“Alloh tidak menyukai ‘uquq (durhaka kepada orang tua). Siapapun terlahir anak baginya, lalu dia suka untuk menyembelih bagi bayinya, hendaklah dia sembelih untuk bayi lelaki dua kambing yang semisal, dan untuk bayi perempuan satu kambing.” HR Abu Dawud & NasaI, dari hadits Ibnu ‘Umar ra., shahih. (Shahîhul Jâmi’ 7630)

Namun nama ‘aqiqah juga dipakai oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam. Wallahu A’lam.

Hukum Aqiqah

Ada dua pendapat:

  1. Wajib. (Pendapat Hasan al Bashri & Zhahiriyah)
  2. Sunnah mu`akkadah.

Dalil penguat wajibnya nasikah: “Aqiqah itu haq (wajib); untuk bayi lelaki dua kambing yang semisal, dan untuk bayi perempuan seekor kambing.” HR Ahmad, dari hadits Asma` binti Yazid ra., shahih. (Shahîhul Jâmi’ 4133)

“Anak itu tergadai oleh ‘aqiqahnya; disembelihkan untuknya di hari ketujuh, diberi nama, dan digundul kepalanya.” HR Tarmidzi, dari hadits Samurah ra., shahih. (Shahîhul Jâmi’ 4184)

Murtahan (tergadai) dalam hadits ini dipahami: nasikah bagaikan gadaian, yaitu wajib untuk ditunaikan.1 (Tamâmul Minnah)

1 Penafsiran Imam Ahmad: Anak jika tidak dinasikahi, tidak dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya jika anak itu mati. ** Tafsir yang dipilih Ibnul Qayyim: Anak tersebut tertahan dari kebaikan yang ditujukan kepadanya. (Tamâmul Minnah)

• Dalil tidak wajibnya nasikah: kalimat pada hadits pertama dalam buku ini.

Imam Ahmad saat ditanya tentang hukum nasikah berkata, “Adapun wajib, aku tidak tahu. Aku tidak mengatakan wajib. Dalil paling keras tentang ini adalah bahwa seseorang tergadai oleh ‘aqiqahnya.” (Tamâmul Minnah) Wallahu A’lam.

Waktu Aqiqah

Ada yang disepakati, ada yang tidak.

  1. Yang disepakati: hari ke-7 dari kelahiran.
  2. Yang diperselisihkan: kelipatan hari ke-7 (ke-14 & 21)

Imam Malik berkata, “Jika hari ke-7 terlewat, nasikah gugur.”

Sementara itu Tarmidzi menukil bahwa ahli ilmu menyukai jika tidak siap bernasikah di hari ke-7, maka dilakukan di hari ke-14. Jika tidak siap juga, maka di hari ke-21. (Tamâmul Minnah)

Hadits tentang nasikah hari ke-14 & 21 adalah hadits dha’if. (It.hâful Kirâm) Wallâhu A’lam.

Cara Menghitung Hari Ketujuh

Ada dua pendapat:

  1. Hari pertama tidak dihitung, kecuali jika lahir sebelum fajar. (Pendapat Imam Malik)
  2. Hari pertama dihitung. (Pendapat jumhur)

Ibnul Qayyim memilih pendapat Imam Malik, di dalam kitab beliau ‘Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’, dan beliau tidak menukil pendapat jumhur di situ.

Sementara itu Syaikh ‘Utsaimin memakai pendapat jumhur. Wallâhu A’lam.

Aqiqah Anak Bayi Laki-Laki

Terdapat dua pendapat:

  1. Disunnahkan (!) dua ekor kambing (mazhab Jumhur).
  2. Seekor kambing (mazhab Imam Malik).

Pendapat pertama lebih kuat, karena dalil disunnahkannya nasikah dengan dua ekor kambing untuk bayi laki-laki adalah shahih, yaitu kalimat pada hadits yang lalu. (It.hâful Kirâm). Namun demikian:

• Boleh 1 ekor kambing jika 2 ekor memberatkan. Dalilnya:

Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam beraqiqah untuk Hasan dan Husain, masing-masing seekor kambing gibas. HR Abu Dawud 2841, shahih.

Hanya saja hadits ini diriwayatkan Nasa`I dengan lafal: (masing-masing dua ekor kambing gibas), dan lafal ini lebih shahih menurut Syaikh Albani. Wallâhu A’lam.

Aqiqah Anak Bayi Perempuan

Disunnahkan untuk dinasikahi dengan seekor kambing. Dalilnya kalimat pada hadits yang lalu.

Mengapa untuk bayi perempuan hanya seekor kambing? Konon dulu penjenguk bayi laki-laki lebih banyak, sehingga diperlukan hidangan yang lebih banyak pula. Wallahu A’lam.

Syarat Hewan Aqiqah

Ada dua pendapat:

  1. Nasikah sama dengan nusuk (qurban haji) & qurban idul adha; tidak boleh berupa hewan yang cacat. (Pendapat Imam Malik)
  2. Nasikah tidak disyaratkan seperti pada qurban.

Syarat sah hewan qurban adalah:

  • Berusia musinnah (poel; jw.).
  • Selamat dari empat cacat yang tertera dalam hadits tentang hewan qurban.

Adapun dalil pendapat kedua adalah lafal (dua kambing yang semisal), karena ‘kambing’ di sini disebutkan secara mutlak tanpa persyaratan. Namun kata ‘semisal’ menunjukkan harus selamat dari cacat yang fatal, karena kafa`ah (semisal) tidak berlaku untuk yang remeh. Karena itu empat cacat yang tidak sah untuk hewan qurban, hendaklah dihindari pula. (It.hâful Kirâm)

Kata ‘kambing’ menunjukkan bahwa nasikah harus berupa hewan yang sudah besar sehingga dapat disebut kambing, bukan cempe alias anak kambing. (It.hâful Kirâm)

Hukum Hewan Betina untuk Aqiqah?

Persis seperti hewan qurban idul adha, yaitu nasikah boleh berupa hewan betina atau jantan, berdasarkan hadits shahih:

“Untuk bayi laki-laki dua kambing, dan untuk bayi perempuan seekor kambing. Tidaklah memadharati kalian, apakah kambing jantan atau betina.” HR Imam Tiga, dari hadits Ummi Kurz ra., shahih. (Shahîhul Jâmi’ 4106)

Hukum Aqiqah dengan Selain Kambing

Ada dua pendapat:

  1. Nasikah harus berupa kambing. (mazhab Zhahiriyah)
  2. Boleh berupa kambing/sapi/onta. (mazhab Jumhur)

Pendapat pertama merujuk kepada fatwa ‘Aisyah ra. yang berkata saat disarankan untuk bernasikah dengan onta, “Aku berlindung kepada Alloh! Akan tetapi seperti sabda Nabi, yaitu dua kambing yang semisal.” (Baihaqi 9/301) Pendapat ini dikuatkan Ibnul Qayyim dan Ibnul Mundzir. (At Tamâm)

• Dalil bagi mazhab jumhur adalah:

“Siapapun terlahir seorang anak baginya, hendaklah dia beraqiqah untuknya berupa onta, sapi, atau kambing.” HR Thabarani dalam as Shaghir 229, dengan sanad yang dha’if. ‘Abdul Malik bin Ma’ruf bersendiri dalam meriwayatkannya.

Al ‘Iraqi berkata, “Hadits tersebut diriwayatkan Thabarani dengan sanad dha’if, dan diriwayatkan Abus Syaikh dalam al Adhâhi dengan sanad yang hasan.”

Syaikh al Albani mendha’ifkan pula sanad Thabarani, namun sayang beliau tidak menyebutkan tentang sanad Abus Syaikh. Untuk kehati-hatian, lebih baik memakai pendapat pertama. (Tamâmul Minnah) Wallahu A’lam.

• Perhatian!

Jika bernasikah dengan sapi, tidak boleh berserikat 7 orang untuk seekor sapi (seperti dalam qurban). Untuk nasikah, seekor hewan berlaku untuk seorang bayi saja. (Tuhfatul Maudud) Wallahu A’lam.

Hukum Aqiqah dengan Selain Al-An’am

Al An’am adalah: onta, sapi/kerbau, dan kambing. Ulama sepakat bahwa nasikah harus berupa al an’am. Pendapat selain itu dinilai syadz (ganjil), sehingga tidak dianggap.

Diriwayatkan dari Abu Hirr ghafarallahu lahu waliummihi2 bahwa beliau 2 Doa yang sangat disukai Abu Hirr ra., berdasarkan atsar shahih riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad dari Ibnu Sirin murid Abu Hirr ra.

** Abu Hirr juga lebih beliau sukai daripada Abu Hurairah, karena hirr itu mudzakkar (jantan), sementara hurairah muannats (betina). Wallahu A’lam.

Doa saat Menyembelih Aqiqah

Boleh berdoa, boleh juga tanpa doa. Adapun ‘Bismillah’ sebelum menyembelih, hukumnya wajib. Berdosa jika ditinggalkan secara sengaja, dan sembelihannya tidak halal.

Imam Ahmad berkata, “Saat menyembelih nasikah, dibaca ‘Bismillâh’, dan disembelih dengan niat. Seperti pada penyembelihan qurban.”

Komentar Ibnul Mundzir, “Hal itu baik. Namun jika meniatkan nasikah tanpa dilafalkan, itu sudah cukup insyaAlloh.”

Qatadah ditanya tentang cara penyembelihan nasikah. Beliau berfatwa, “Hewan dihadapkan ke kiblat, lalu pisau diletakkan pada lehernya, lalu diucapkan (Ibnu Abi Syaibah no. 24271): “Ya Alloh, ini dari-Mu dan untuk-Mu, ‘aqiqah bagi fulan (nama bayi). Dengan Nama Alloh. Alloh Mahabesar.”

Doa senada diriwayatkan juga secara marfu’ oleh ‘Abdur Razzaq dalam Mushannafnya no. 7963. Wallâhu A’lam.

Hukum Distribusi (Penyaluran) Daging Aqiqah

Ibnu Sirin ditanya: Nasikah boleh dimakan keluarga bayi? Beliau jawab, “Ya. Tapi tidak dimakan semuanya. Sebagian disedekahkan.” (Tamâmul Minnah)

Haruskah Daging Aqiqah Dimasak?

Tidak harus dimasak. Karena tidak ada satu pun dalil yang menyunnahkan untuk memasaknya atau membagikannya. Itu semua mubah/boleh.

Imam Ahmad ditanya apa yang harus diperbuat terhadap daging nasikah, beliau jawab, “Terserah Anda.” (At Tamâm)

Dimasak lebih utama, karena penerima tinggal makan tanpa harus mamasak. Tenguk-tenguk nemu getuk. Wallahu A’lam.

Jika Tidak Menyembelih Aqiqah

Menurut Imam Bukhari, jika tidak menyembelih nasikah maka penamaan bayi dilakukan di hari pertama kelahiran.

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam menamai putranya, Ibrahim, di hari pertama kelahiran. Beliau juga memberi nama al Mundzir (seorang putra shahabat) di hari pertama kelahirannya.

Ini dipahami Imam Bukhari untuk bayi yang tidak dinasikahi, demi mengkompromikan antar dalil dalam hal ini. Wallâhu A’lam.

Apakah Nasikah Boleh Digabung dengan Qurban?

Jika hari nasikah bertepatan dengan hari idul adha, bolehkah digabungkan (satu hewan untuk dua niatan)?

Ada dua pendapat:

  1. Boleh. (Dipilih Syaikh ‘Utsaimin)
  2. Tidak boleh. (Dipilih Syaikh al ‘Azzazi Mesir)

Imam Ahmad memiliki tiga pendapat, yaitu: boleh, tidak boleh, dan tawaqquf (diam; tidak memberikan keputusan).

Menurut Syaikh ‘Utsaimin, meskipun satu hewan boleh diniatkan untuk nasikah sekaligus qurban idul adha, namun jika seseorang memiliki harta sepantasnya dia menyembelih dua ekor. Wallâhu A’lam.

Hukum Aqiqah untuk Diri Sendiri (shahih)

Jika seseorang belum dinasikahi saat kecilnya, maka diperbolehkan untuk menasikahi diri sendiri setelah ia dewasa.

Nabi shallallâhu ‘alaihi waâlihi wasallam menasikahi dirinya setelah menjadi nabi. Ini diriwayatkan oleh Abus Syaikh dari dua jalur. Jalur pertama dha’if, diriwayatkan ‘Abdullah bin Muharrar yang matrukul hadits. Jalur kedua dinilai qawiyyul isnad (sanadnya kuat) oleh Ibnu Hajar. (Fathul Bari 9/595)

Mencukur Rambut Bayi (cowok/cewek)

“Bersama seorang bayi terdapat ‘aqiqah, maka tumpahkanlah darah (menyembelih) untuknya, dan singkirkanlah gangguan darinya.” HR Bukhari, dari hadits Salman bin ‘Amir ra. (Shahîhul Jâmi’ 5877)

Ibnu Sirin & Ashma’i menafsikan pelenyapan gangguan di sini dengan: mencukur rambut bayi. Tafsir ini dikuatkan oleh Syaukani dalam Nailul Authar 5/194. (Tamâmul Minnah)

Zhahir hadits ini berlaku untuk bayi laki-laki dan wanita.

Kesimpulan

Demikianlah catatan mengenai hukum aqiqah dalam Islam, wallahu a’lam.

Semoga dapat menambah wawasan kepada kita semua sehingga kita bisa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, amin.

Wabillahit taufiq.

Sumber:

Kututbut Tis’ah, Shahih wa Dha’if Jami’is Shaghir (Syaikh al Albani), Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud (Imam Ibnul Qayyim), It.hâful Kirâm (syarh Bulughul Maram oleh Syaikh Mubarakfuri), Tamâmul Minnah fi Fiqhil Kitab wa Shahihis Sunnah (Syaikh ‘Adil Yusuf al ‘Azzazi Mesir), dll.


Catatan hukum aqiqah ini disadur dari e-book Diktat Nasikah Aqiqah oleh PKH (Pusat Kajian Hadits) Solo yang ditulis oleh Ust. Abu Zaidan hafidhahullah.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.