Arti Lillahi Ta’ala

Simak penjelasan tentang arti lillahi ta’ala serta tulisan Arab dan artinya berikut ini.

Selain diucapkan dengan lisan, keimanan seseorang juga harus dibuktikan dengan amalan. Sifat seorang mukmin sejati adalah orang yang mereka beriman dan beramal shaleh.

Hanya saja, amal yang kita lakukan juga tidak boleh sembarangan. Ada aturan yang harus dijaga padanya. Seseorang harus beramal dengan niatan lillahi ta’ala.

Bagaimana tulisan Arab dan apa artinya tulisan ini?

Berikut ini kami jelaskan.

Tulisan Arab Lillahi Ta’ala dan Artinya

lillahi ta'ala huruf arab

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita pasti sering menemui atau mengucapkan bahasa Arab. Hal ini karena sebagai seorang muslim, kehidupan kita juga tidak lepas dengan istilah-istilah Arab karena pedoman hidup kita adalah Al Quran yang berbahasa Arab.

Lillahi ta’ala adalah berasal dari bahasa Arab dengan tulisan Arab: لِلّهِ تَعَالَى dan artinya adalah “untuk Allah ta’ala”.

Kalimat ini biasanya diucapkan ketika ada sebuah pembahasan yang berkaitan dengan niat. Bahwa seorang muslim harus berniat karena Allah pada setiap amal perbuatan yang dia lakukan di dunia ini.

Lalu, kenapa kita harus berniat karena Allah? Apa maksudnya?

Maksud Lillahi Ta’ala

Cara setan dalam mengobok-obok permasalahan niat dalam hati sangatlah halus. Ada banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka telah melakukan kemusyrikan karena memperbuat suatu amalan yang tidak didasari karena mencari ridho Allah taala.

Mengharap ridho Allah adalah tujuan ibadah seorang muslim, seperti contohnya ketika shalat dan berpuasa. Kalau dilihat dari segi bahasa hadits, itu dikenal dengan istilah makna “imanan wa ihtisaban”.

‘Imanan’ atau karena iman, yaitu membuat landasan motivasi kita dalam beribadah adalah karena kita beriman kepada Allah taala. Dia adalah Dzat yang telah menciptakan, mengurusi, dan melimpahkan rezeki kepada kita semua. Hanya Dia satu-satunya yang pantas dan berhak disembah oleh semua makhluk. Karena Dia telah memberikan perintah ibadah seperti itu kepada kita, maka tugas kita hanyalah melaksanakan perintah tersebut.

‘Ihtisaban’ atau karena mengharap pahala, yaitu kita mengharapkan balasan amal yang kita lakukan hanya dari Allah taala. Melakukan suatu amalan bukan karena ingin dilihat atau didengar oleh orang lain; bukan karena membanggakan diri; bukan untuk mencari keuntungan yang bersifat duniawi.

Bahkan, dalam menghadapi musibah atau masalah-masalah yang sulit dalam hidup ini, kita juga harus menjadikan Allah sebagai tujuan.

Bahkan, berapa banyak orang yang secara lahir melakukan perbuatan amal shalih, tetapi dia justru tidak mendapatkan pahala sama sekali. Kiranya hadits yang panjang berikut ini dapat menjadi renungan bagi kita semua:

“Sesungguhnya paling pertamanya manusia yang akan diadili di hari kiamat adalah orang yang syahid. Didatangkan dengannya, Dia (Allah) menampakkan kenikmatan-kenikmatannya (yang seharusnya dia dapatkan), lalu orang itu mengenalinya.

Dia (Allah) bertanya: Apa yang kamu usahakan padanya? Dia menjawab: Aku berperang karena Engkau sampai mati syahid.

Allah berkata: Dusta kamu. Akan tetapi kamu berperang supaya disebut sebagai orang yang pemberani dan itu sudah dikatakan.

Kemudian diperintahkan agar dia dibawa, lalu dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Dan orang yang belajar agama, mengamalkannya, dan dia hafal quran. Maka didatangkan dengannya, ditampakkan nikmat-nikmatnya, dan dia mengenalinya.

Allah bertanya: Apa yang kamu perbuat padanya? Dia berkata: Aku belajar agama, mengamalkannya, dan hafal quran karena Engkau.

Allah berkata: Dusta kamu. Akan tetapi kamu belajar agama agar disebut alim, kamu hafal quran agar disebut qari, dan itu sudah dikatakan.

Kemudian dia diperintahkan agar dibawa, lalu diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seseorang yang Allah meluaskan (rezeki) atasnya dan Dia berikan kepadanya dari semua jenis harta.

Didatangkan dengannya, diperlihatkan nikmat-nikmatnya, dan dia mengenalinya.

Allah bertanya: Apa yang kamu perbuat padanya? Dia menjawab: Tidaklah aku meninggalkan satu kesempatan yang Engkau suka disedekahi padanya, kecuali aku infaq padanya karena Engkau.

Allah berkata: Dusta kamu. Akan tetapi kamu berbuat hal itu agar disebut dermawan dan itu sudah dikatakan.

Kemudian diperintahkan agar dia dibawa, lalu dia diseret atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” [Hr. Muslim]

Jika Ridho Lillah, Tidak Ada yang Berat

Sebagaimana telah kita ketahui, tidak semua orang merasa mudah untuk melakukan sebuah amal kebaikan, bahkan bisa jadi termasuk diri kita sendiri. Sebagai contoh adalah dalam masalah mengajak kepada kebaikan.

Seringkali kita merasa berat untuk mengajak orang lain agar mau berbuat baik. Padahal, sebagai seorang muslim, setiap kita memiliki kewajiban untuk melakukannya. Allah taala berkalam:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah: Ini adalah jalanku, aku menyeru kepada Allah atas dasar bashirah (keyakinan dan hujjah). Aku dan sesiapa yang mengikutiku.” [Qs. Yusuf ayat 108]

Jadi, berdakwah adalah jalan para pengikut Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.

Kembali ke pembahasan inti, tidak semua orang mudah untuk berdakwah sehingga kita perlu membahas solusinya. Dan solusi terbaik yaitu melihat kepada para utusan Allah.

Sebagaimana kita bisa lihat kisah-kisah mereka dalam Al-Quran, jalan dakwah mereka tidaklah mudah. Banyak sekali cemoohan dan bahkan gangguan fisik yang mereka dapatkan dari kaumnya. Akan tetapi, mereka tetap tidak pernah mundur dari berdakwah.

Bahkan menariknya lagi adalah kisah Nabi Nuh alaihis salam. Beliau selama 950 tahun tinggal bersama kaumnya. Berdakwah siang dan malam, menggunakan berbagai macam metode. Hasilnya? Kurang lebih 80 orang yang beriman. Dan beliau jalani itu.

Apa kunci kesabaran mereka dalam berdakwah? Ikhlas lillahi ta’ala. Mengharap ridho darinya. Itulah kunci utama.

Ikhlas adalah kunci agar sesuatu yang berat menjadi terasa mudah

Tidak hanya dalam dakwah, mengikhlaskan niat lillahi ta’ala adalah kunci langgengnya amal ibadah kita. Ikhlas jugalah yang akan membuat ibadah terasa mudah kita lakukan. Oleh karenanya, marilah kita selalu berusaha meniatkan segala apa yang kita lakukan untuk Allah taala.

Demikianlah penjelasan mengenai tulisan Arab dari lillahi ta’ala dan artinya, serta pembahasan tambahan yang berkaitan, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan