Hadits Shahih tentang Lezat Manisnya Iman

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Dalam menunjukkan tentang lezat manisnya iman, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits shahih yang akan kita bahas berikut ini.

Semoga Allah taala dengan sifatnya yang Maha Pemurah berkenan memberikan karunia ini kepada kita semua, amin.

Iman

Pengertian iman yang dikenal oleh ulama adalah keyakinan dalam hati, ucapan pada lisan, dan perbuatan dengan anggota badan.

Seseorang misalnya, belum dikatakan beriman secara hakiki ketika telah mengucapkan syahadat, tetapi tidak melakukan sholat.

Imam Al Bukhari pada permulaan kitab Al Iman dalam kitab Shahihnya mengatakan: “Dia (iman) adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”

Hadits Shahih tentang Manisnya Iman

1. Tulisan Arab dan Arti Hadits

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada 3 kriteria, barang siapa termasuk di dalamnya, maka dia pasti mendapatkan rasa manisnya keimanan:

  1. Bahwasanya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.
  2. Bahwasanya ketika mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.
  3. Dan bahwasanya dia benci kepada perbuatan kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci kepada dicampakkan ke dalam neraka.”

Imam Al Bukhari telah mengeluarkan hadits ini pada kitab Al Iman dan Imam Muslim telah mengeluarkannya pada kitab Al Iman dalam kitab shahih keduanya.

2. Keterangan Hadits Manisnya Iman

Pertama – Ada tiga syarat untuk mendapatkan manisnya keimanan atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan halawatul iman.

Kedua – Syaikh Ibnu Baththal berkata:

معنى وجود حلاوة الإيمان هو استلذاذ الطاعات وتحمل المشقات فيما يرضى الله تعالى، ورسوله (صلى الله عليه وسلم) ، وإيثار ذلك على عرض الدنيا، رغبة فى نعيم الآخرة، الذى لا يبيد ولا يفنى

“Maksud keberadaan halawatul iman adalah merasa lezat dengan ketaatan-ketaatan dan menahan rasa berat pada apa-apa yang membuat Allah taala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam ridlo. Dan mengutamakan hal itu atas materi dunia karena menginginkan kenikmatan akhirat yang tidak hilang dan tidak fana.” [Syarah Ibnu Baththal 1/66]

Ketiga – Syarat pertama adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan cinta yang lebih daripada selain keduanya.

Sebagaimana tabiat cinta pada umumnya, ia menjadikan seseorang rela berkorban untuk hal-hal yang dia cintai.

Seorang ibu misalnya, karena cintanya kepada seorang anak, terkadang merelakan dirinya tidak makan hanya supaya anak-anaknya dapat makan.

Contohnya adalah cerita seorang wanita miskin dan 2 anak perempuannya di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dapat anda baca pada artikel hadits shahih tentang 3 anak perempuan.

Begitu pula orang yang cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada selain keduanya. Ia harus memiliki ciri-ciri bahwa ia rela mengorbankan segala hal demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Keempat – Syarat kedua adalah ketika mencintai seseorang, maka cintanya adalah cinta karena Allah, bukan karena hal lainnya seperti karena materi dunia dan semisalnya.

Yahya bin Muadz berkata:

حَقِيقَةُ الْحُبِّ فِي اللَّهِ أَنْ لَا يَزِيدَ بِالْبِرِّ وَلَا يَنْقُصَ بِالْجَفَاءِ

“Mencintai karena Allah yang hakiki adalah tidak bertambah karena perlakuan baik dan tidak berkurang karena perlakuan yang kasar.” [Fathul Bari 1/62]

Kelima – Syarat ketiga adalah ketika seseorang sudah bertaubat atas maksiat yang pernah dia lakukan, maka dia harus benci dari kembali melakukan kemaksiatan tersebut sebagaimana dia benci dicampakkan ke dalam neraka.

Perbuatan ini sering dikenal dengan taubat nashuha.

3. Faedah Hadits

Berikut ini beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari hadits di atas:

1. Kenyamanan dan rasa nikmat serta tidak merasa berat, malas, atau enggan ketika menunaikan ibadah dapat dicapai oleh seseorang.

2. Orang yang ingin untuk merasakan nikmat saat melakukan ibadah kepada Allah hendaknya memenuhi 3 syarat yang telah disebutkan pada hadits di atas.

3. Perintah bagi setiap muslim untuk mencintai Allah dan RasulNya dan menjadikan cintanya itu lebih daripada cintanya kepada selain keduanya.

4. Bentuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menjalankan perintah keduanya sekuat kemampuan kita dan menjauhi larangannya tanpa terkecuali.

5. Hasungan bagi setiap muslim untuk merekatkan ukhuwwah dan saling mencintai sesama muslim karena Allah. Salah satu keutamaan mencintai karena Allah adalah akan dijadikan sebagai salah satu dari 7 golongan yang mendapat naungan Allah.

6. Salah satu bentuk cinta kepada sesama muslim adalah saling membantu dalam ketaatan dan saling mencegah dari kemungkaran.

7. Kita dilarang dari mendekati hal-hal yang menyebabkan murtad karena ketika mendekatinya, hal itu sama saja membiarkan diri kita untuk masuk ke dalam neraka.

Buah dari Keimanan

Sesungguhnya iman memiliki pengaruh yang baik pada diri seseorang. Pengaruh ini muncul entah di dunia maupun di akhirat. Termasuk buah dari memiliki iman adalah:

1. Kehidupan yang Baik

Allah taala telah berjanji bahwa Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada orang yang beriman kepada-Nya. Allah taala berkalam:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa beramal shalih dari laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka Kami akan memberikan kehidupan baginya berupa kehidupan yang baik.” [Qs. An-Nahl (16) : 97]

2. Petunjuk kepada Kebenaran

Seorang mukmin adalah orang yang dekat dengan Allah dan mereka adalah orang-orang yang disebut oleh Allah bahwa Dia akan memberikan petunjuk kepada mereka. Allah taala berkalam:

وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” [Qs. Al Hajj (22) : 54]

3. Rezeki yang Thoyyib

Rezeki yang patut dicari adalah rezeki yang berkah meskipun secara jumlah ia tergolong sedikit. Keberkahan rezeki merupakan karunia dari Allah yang diberikan secara khusus kepada orang-orang beriman.

4. Mendapat Kemuliaan

Allah taala berkalam:

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan kemuliaan itu adalah milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.” [Qs. Al Munafiqun (63) : 8]

5. Kekuasaan di atas Muka Bumi

Contoh dari hal ini adalah yang terjadi di zaman Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan Khulafa’ur Rasyidin. Allah selalu memberikan kemenangan kepada mereka sehingga mereka menjadi generasi pemimpin.

6. Meninggal dalam Keadaan Husnul Khotimah

Meninggal dengan amalan akhir yang baik atau husnul khotimah adalah dambaan setiap orang. Akan tetapi, karunia ini hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mereka memiliki iman.

Demikianlah tulisan kami akan keterangan hadits shahih tentang lezat manisnya iman yang dapat kami sampaikan, wallahu a’lam.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang dapat merasakan manisnya iman sehingga mampu untuk giat dan semangat dalam beribadah kepada Allah, amin.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.