Breaking News

Meneladani Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa dalam Kehidupan Sehari-hari 

Meneladani sifat dan kisah Nabi juga Rasul adalah suatu anjuran yang seharusnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tentunya karena banyak kisah dan sifat baik yang bisa dijadikan suri tauladan bagi manusia  biasa. Kisah Nabi Khidir dan Nabi  Musa adalah salah satu dari sekian banyak kisah Nabi yang perlu diteladani.

Menilik Sedikit Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa

Menelaah pertemuan singkat Nabi Musa dan Nabi Khidir merupakan satu suri tauladan supaya manusia selalu menyadari bahwa masih ada langit di atas langit. Jawaban Nabi Musa kepada Allah SWT saat ditanya tentang adakah orang yang lebih berilmu dari Nabi Musa adalah awal mula akan terjadinya pertemuan. Allah SWT mempertemukan Nabi Musa kepada Nabi Khidir supaya Nabi Musa bisa memahami bahwa masih ada orang yang lebih berilmu daripada beliau.

QS al-Kahfi ayat 18 : 61-65 menjelaskan pertemuan Nabi Khidir dan Nabi Musa yang bermula dari ikan yang melompat. Nabi Musa mengikuti ikan tersebut hingga akhirnya bertemu dengan Nabi Khidir saat beristirahat. Dari sinilah kemudian Nabi Musa meminta supaya bisa mengikuti perjalanan Nabi Khidir dan melihat sedalam apa ilmu yang dimiliki Nabi Khidir.

Namun, sebelum perjalanan dimulai Nabi Khidir sempat meminta supaya Nabi Musa tidak bertanya pada beliau selama perjalanan. Nabi Musa akhirnya menyetujui syarat tersebut dan akhirnya perjalan dimulai dengan berbagai kejadian yang sempat membuat Nabi Musa keheranan.

Meneladani Perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa

Perjalanan Kisah Nabi Khidir dan Nabi  Musa memiliki banyak sekali kejadian yang akan membuat terheran-heran dengan keputusan yang diambil oleh Nabi Khidir. Nabi Musa pun sempat meragukan keputusan yang diambil oleh Nabi Khidir selama perjalanan. Namun, bila ditelaah kembali maka, akan banyak penjelasan dan tauladan yang dapat diambil dari keputusan-keputusan Nabi Khidir. Lalu, apa saja teladan yang dapat diambil dari kisah perjalanan ini? Simak ulasannya berikut:

1. Jangan Sombong

Sama seperti apa yang dilakukan oleh Nabi Musa setelah mengetahui alasan dibalik sikap yang diambil oleh Nabi Khidir. Kesombongan yang sempat diucapkan oleh Nabi Musa kepada Allah SWT nyatanya terpatahkan setelah bertemu dengan Nabi Khidir.

Pelajaran pertama yang dapat dipetik dari Kisah Nabi Khidir dan Nabi  Musa adalah meninggalkan sifat sombong. Sejatinya kesombongan hanyalah akan membawa kerugian bagi yang melakukannya. Menyadari bahwa manusia hanyalah makhluk biasa yang bahkan tidak memiliki kekuasaan lebih dari Allah SWT adalah salah satu cara menghilangkan sifat buruk ini.

2. Berani Mengambil Keputusan

Satu hal yang sering ditakutkan dalam kehidupan manusia adalah salah mengambil langkah. Terkadang akan selalu ada pilihan-pilihan sulit yang harus diambil dalam setiap melakukan sesuatu. Banyak resiko yang akhirnya menjadi momok menakutkan dalam menempuh jalan yang akan diambil oleh seseorang. Hal ini sebenarnya tidak jauh kaitannya dengan keputusan yang diambil oleh Nabi Khidir.

Ada dua mata pisau yang sama-sama memberikan dampak negatif bagi perjalan yang ditempuh dalam kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Contohnya saja saat Nabi Khidir memilih untuk membunuh seorang remaja kafir supaya tidak mempengaruhi orang tuanya yang mukmin. Keputusan ini diambil oleh Nabi Khidir supaya keimanan orang tua dari remaja tersebut tetap terjaga dan tidak terjerumus dalam kemaksiatan.

3. Mengambil Hikmah

Melalui kisah perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa tentunya ada banyak hikmah yang bisa diambil. Salah satunya adalah memahami situasi yang terjadi disekitar. Memandang suatu masalah lebih dalam saat mengambil keputusan. Kisah perjalanan singkat ini sebenarnya sangat berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dimana sering kali akan ada keputusan dan resiko yang harus diambil dalam setiap hal.

Itulah tadi Kisah Nabi Khidir dan Nabi  Musa yang dapat dijadikan suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari khususnya saat akan mengambil keputusan. Selain itu, hilangkan juga sifat sombong karena pada dasarnya manusia hanyalah bagian kecil dari segala hal yang dimiliki oleh Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.