7 Golongan yang Dapat Naungan Allah di Padang Mahsyar

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Simak penjelasan hadits tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah di padang mahsyar di hari kiamat berikut ini. Hadits ini merupakan hadits yang shahih.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang termasuk di dalamnya.

7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah di Padang Mahsyar

Abu Hurairah radliyallahu anhu bercerita bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Tujuh golongan yang Allah menaungi mereka pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

  1. Imam yang adil
  2. Pemuda yang tumbuh beribadah kepada Rabb-Nya
  3. Orang yang hatinya selalu tergantung dengan masjid
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya
  5. Seseorang yang dipanggil wanita yang mempunyai nasab dan kecantikan (untuk berzina) lalu ia berkata, “Aku takut kepada Allah (tidak menghendaki).”
  6. Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sampai (digambarkan) tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya
  7. Seseorang yang mengingat Allah dalam kesepian lalu meneteskan air matanya

[Al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini pada kitab ‘Bad’il Adzan’ dalam kitab Shahihnya dan Muslim pada kitab ‘Az-Zakah’ dalam kitab Shahihnya]

Penjelasan Hadits 7 Golongan yang Dinaungi

Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat yang tidak ada naungan selain naungan-Nya (hari Mahsyar). Tujuh golongan tersebut adalah:

Pertama – Seorang imam atau pemimpin yang adil

Pemimpin yang dimaksud di sini adalah pemimpin muslim yang mengurusi perkara-perkara muslimin dan berpengaruh terhadap kemaslahatan mereka.

Kedua – Seorang pemuda yang tumbuh untuk beribadah kepada Allah taala.

Dikhususkan pemuda karena fase ini merupakan tempat bergejolaknya syahwat dan dorongan untuk mengikuti hawa nafsu yang sangat kuat, sehingga untuk melazimi ketakwaan dan ibadah itu sangat sulit.

Ketiga – Seseorang yang selalu ingin beribadah di masjid (hatinya selalu merindu masjid)

‘Orang yang hatinya selalu tergantung dengan masjid’ yang dimaksud adalah orang yang sangat cinta untuk beribadah di masjid dan melazimi shalat jamaah di dalam masjid.

Keempat – Dua orang yang saling cinta karena Allah sehingga mereka hanya bertemu dan berpisah karena Allah.

Pembahasan lebih lengkap mengenai hal ini dapat anda baca pada artikel cinta karena Allah.

Kelima – Seorang lelaki yang menolak ajakan seorang wanita berparas cantik dan berkedudukan mulia untuk berzina. Lelaki itu justru berkata, “Aku takut Allah!”

Perkataan, “Aku takut Allah!” oleh orang yang menolak ajakan berzina itu bisa diucap di lisan atau hanya sekedar di dalam hati.

Dalam hadits ini disebutkan dengan ‘ajakan wanita yang berparas cantik dan berkedudukan mulia’ karena godaan seorang wanita yang mempunyai sifat-sifat seperti itu sangat berat untuk ditolak

Keenam – Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga dikiaskan bahwa tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.

Dalam riwayat milik Imam Muslim disebutkan sebaliknya, yaitu ‘tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya’. Akan tetapi, riwayat ini dinilai sebagai riwayat yang syadz (menyelisihi) sehingga tidak dapat diterima, wallahu a’lam.

Hadits ini menjadi salah satu penjelasan tentang keutamaan sedekah.

Ketujuh – Seseorang yang mengingat Allah (berdzikir) dalam kesepian sampai terlinang air matanya karena takut kepada Allah.

Dikhususkan ‘dalam kesepian’ pada orang yang mengingat Allah sampai air matanya terlinang, karena hal ini lebih dekat kepada keikhlasan dan jauh dari perbuatan riya’.

Faedah Hadits Tujuh Golongan yang Dilindungi Allah

Setelah membaca hadits di atas dan penjelasannya, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting berikut ini:

1. Hendaknya muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan naungan Allah di hari Kiamat kelak dengan menjadi salah satu dari 7 golongan di atas.

2. Naungan Allah yang dimaksud adalah naungan ‘Arsy Allah pada saat semua manusia berdiri di padang Mahsyar, matahari didekatkan, panas yang sangat, dan keringat manusia membanjir sehingga mampu menenggelamkannya.

3. Di padang mahsyar kelak, matahari didekatkan kepada kepala kita. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Matahari didekatkan pada hari Kiamat dari makhluk sampai jarak antara mereka seukuran satu mil.” [Hr. Muslim]

Rawi yang meriwayatkan hadits ini ragu apakah mil yang dimaksud adalah jarak perjalanan ataukan ukuran yang dipakai untuk celak mata. Hanya saja, semuanya tetaplah menunjukkan bahwa jarak antara kepala dan matahari adalah lebih dekat dibanding dengan jarak sekarang.

4. Hadits ini menghasung kita untuk saling mencintai karena Allah karena ia memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini, banyak juga keutamaan-keutamaan lain dari saling cinta karena Allah.

5. Dalam shahih Muslim disebutkan ‘Tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya’. Namun, riwayat yang benar adalah seperti riwayat ini, yaitu dengan lafal ‘tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya’, karena hal-hal yang identik dengan kebaikan disukai dengan tangan kanan.

6. Al Qadli Iyadl menegaskan bahwa kesalahan penukilan pada riwayat Muslim itu disebabkan oleh para penukil yang meriwayatkan dari Imam Muslim, bukan karena Imam Muslim sendiri. Sebab, Imam Muslim memasukkan lafal hadits yang benar setelah lafal hadits yang terbalik tersebut.

7. Penyebutan bilangan ‘tujuh’ dalam hadits ini tidak dimaksudkan untuk membatasi jumlah golongan yang mendapat naungan di hari kiamat kelak. Sebab, terdapat hadits-hadits lain yang menunjukkan adanya golongan lain yang juga mendapatkan naungan di padang Mahsyar.

Ibnu Hajar mengumpulkan golongan-golongan lain tersebut dalam sebuah perkataannya:

وَزِدْ سَبْعَةً إِظْلَالَ غَازٍ وَعَوْنَهُ وَإِنْظَارَ ذِي عُسْرٍ وَتَخْفِيفَ حِمْلِهِ وَإِرْفَادَ ذِي غُرْمٍ وَعَوْنَ مُكَاتَبٍ وَتَاجِرَ صِدْقٍ فِي الْمَقَالِ وَفِعْلِهِ

“Dan tambahilah atas tujuh golongan itu yaitu dengan orang yang menaungi pejuang dan menolongnya, orang yang menambah tempo kepada orang yang sedang kesulitan (membayar hutang), orang yang meringankan orang yang kesulitan, orang yang menolong orang yang pailit, orang yang membantu budak mukatab, dan pedagang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya.” [Fathul Bari 2/144]

8. Meskipun lafal hadits ini menggunakan kata رجل yang artinya adalah lelaki, namun wanita juga termasuk di dalamnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud:

النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

“Wanita adalah saudara kandung para lelaki.”

Maksudnya adalah dalam soal syariat, antara lelaki dan perempuan itu sama kecuali pada hal-hal yang memang dikhususkan, wallahu a’lam.

Demikianlah penjelasan mengenai hadits tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat di padang mahsyar, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.


Tulisan ini ditulis ulang dengan tambahan dan pengurangan dari buku Syarah As Sittun An Nafiah karya Fursanul Izzah oleh Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.