Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah

Berikut ini naskah ceramah tentang 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah di hari kiamat ketika memasuki padang mahsyar. Semoga bermanfaat untuk kita semua.

7 Golongan yang Mendapat Naungan Allah

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Amma ba’du

ٍSegenap jama’ah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah…

Marilah kita selalu meningkatkan rasa taqwa kepada Allah, dengan selalu menjalankan perintah-Nya sekuat kemampuan kita dan menjauhi larangan-Nya tanpa terkecuali.

Selain itu, marilah kita juga selalu bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah Dia berikan. Terlebih nikmat iman yang merupakan nikmat terbesar dalam hidup kita.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah…

Ada sebuah hadits yang sangat menarik tentang 7 golongan yang akan mendapatkan naungan Allah ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Abu Hurairah radliyallahu anhu bercerita bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Ada tujuh golongan yang Allah menaungi mereka pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.

الإِمَامُ العَادِلُ

(1) Imam yang adil

وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ

(2) Pemuda yang tumbuh beribadah kepada Rabb-Nya

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ

(3) Orang yang hatinya selalu tergantung dengan masjid

وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ

(4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena-Nya

وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ

(5) Seseorang yang dipanggil wanita yang mempunyai nasab dan kecantikan (untuk berzina) lalu ia berkata, “Aku takut kepada Allah (tidak menghendaki).”

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ

(6) Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya

وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

(7) Seseorang yang mengingat Allah dalam kesepian lalu meneteskan air matanya

Hadits ini ditulis oleh Imam Al-Bukhari pada kitab ‘Bad’il Adzan’ dalam kitab Shahihnya dan Imam Muslim pada kitab ‘Az-Zakah’ dalam kitab Shahihnya

Muslimin muslimat, rahimani wa rahimakumullah..

Pertama – Seorang imam atau pemimpin yang adil

Pemimpin yang dimaksud di sini adalah pemimpin muslim yang mengurusi perkara-perkara muslimin dan berpengaruh terhadap kemaslahatan mereka.

Kedua – Seorang pemuda yang tumbuh untuk beribadah kepada Allah taala.

Dikhususkan pemuda karena fase ini merupakan tempat bergejolaknya syahwat dan dorongan untuk mengikuti hawa nafsu yang sangat kuat, sehingga untuk melazimi ketakwaan dan ibadah itu sangat sulit.

Ketiga – Seseorang yang selalu ingin beribadah di masjid (hatinya selalu merindu masjid)

‘Orang yang hatinya selalu tergantung dengan masjid’ yang dimaksud adalah orang yang sangat cinta untuk beribadah di masjid dan melazimi shalat jamaah di dalam masjid.

Keempat – Dua orang yang saling cinta karena Allah sehingga mereka hanya bertemu dan berpisah karena Allah.

Pembahasan lebih lengkap mengenai hal ini dapat anda baca pada artikel cinta karena Allah.

Kelima – Seorang lelaki yang menolak ajakan seorang wanita berparas cantik dan berkedudukan mulia untuk berzina. Lelaki itu justru berkata, “Aku takut Allah!”

Perkataan, “Aku takut Allah!” oleh orang yang menolak ajakan berzina itu bisa diucap di lisan atau hanya sekedar di dalam hati.

Dalam hadits ini disebutkan dengan ‘ajakan wanita yang berparas cantik dan berkedudukan mulia’ karena godaan seorang wanita yang mempunyai sifat-sifat seperti itu sangat berat untuk ditolak

Keenam – Seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi sehingga dikiaskan bahwa tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.

Dalam riwayat milik Imam Muslim disebutkan sebaliknya, yaitu ‘tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya’. Akan tetapi, riwayat ini dinilai sebagai riwayat yang syadz (menyelisihi) sehingga tidak dapat diterima, wallahu a’lam.

Ketujuh – Seseorang yang mengingat Allah (berdzikir) dalam kesepian sampai terlinang air matanya karena takut kepada Allah.

Dikhususkan ‘dalam kesepian’ pada orang yang mengingat Allah sampai air matanya terlinang, karena hal ini lebih dekat kepada keikhlasan dan jauh dari perbuatan riya’.

Khutbah Kedua

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

Jamaah jum’at rahimani wa rahimakumullah..

Setelah membaca hadits di atas dan penjelasannya, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting berikut ini:

1. Hendaknya muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan naungan Allah di hari Kiamat kelak dengan menjadi salah satu dari 7 golongan di atas.

2. Naungan Allah yang dimaksud adalah naungan ‘Arsy Allah pada saat semua manusia berdiri di padang Mahsyar, matahari didekatkan, panas yang sangat, dan keringat manusia membanjir sehingga mampu menenggelamkannya.

3. Di padang mahsyar kelak, matahari didekatkan kepada kepala kita. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تُدْنَى الشَّمْسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ الْخَلْقِ، حَتَّى تَكُونَ مِنْهُمْ كَمِقْدَارِ مِيلٍ

“Matahari didekatkan pada hari Kiamat dari makhluk sampai jarak antara mereka seukuran satu mil.” [Hr. Muslim]

4. Hadits ini menghasung kita untuk saling mencintai karena Allah karena ia memiliki keutamaan yang sangat besar. Selain keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini, banyak juga keutamaan-keutamaan lain dari saling cinta karena Allah.

8. Meskipun lafal hadits ini menggunakan kata رجل yang artinya adalah lelaki, namun wanita juga termasuk di dalamnya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Abu Dawud:

النِّسَاءُ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

“Wanita adalah saudara kandung para lelaki.”

Maksudnya adalah dalam soal syariat, antara lelaki dan perempuan itu sama kecuali pada hal-hal yang memang dikhususkan, wallahu a’lam.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ