Penyakit Ain yang Berbahaya dan Cara Mengobatinya

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Penyakit Ain – Assalamualaikum saudaraku yang dirahmati Allah. Di zaman kita sekarang, teknologi berkembang pesat. Contoh saja media sosial yang dahulu tidak ada.

Fenomena seperti ini menimbulkan efek positif dan negatif. Efek positif berkembangnya teknologi salah satunya adalah dapat mempermudah kehidupan. Adapun contoh dari efek negatifnya adalah maraknya budaya senang menampakkan kenikmatan secara kebablasan.

Upload bayi yang lucu-lucu. Share makanan yang enak-enak. Foto bersama teman-teman yang bahagia di instagram. Dan masih banyak lagi yang lain. Tanpa kita sadari, perbuatan seperti itu sebenarnya mengundang ain. 

Apa itu Penyakit Ain?

Mungkin kita sudah sering mendengar istilah ini. Entah dari seorang ustadz dalam sebuah pengajian, acara televisi, atau dari surat kabar.

Namun demikian, masih banyak dari kalangan kita yang belum mengerti definisinya.

Lalu apa itu pengertian penyakit ain?

Secara bahasa ain adalah berasal dari bahasa Arab عين yang artinya mata. Adapun secara istilah, Ibnu Hajar mendefinisikannya sebagai:

نَظَرٌ بِاسْتِحْسَانٍ مَشُوْبٌ بِحَسَدٍ مِنْ خَبِيْثِ الطَّبَعِ يَحْصُلُ لِلْمَنْظُوْرِ مِنْهُ ضَرَرٌ

“Pandangan karena merasa indah yang tercampur dengan hasad dari tabiat yang buruk yang membekaskan mudarat bagi orang yang dilihat.” [Fathul Bari 10/200]

Abul Hasan Al-Manufi mendefinisikan ain sebagai: 

سُمٌّ جَعَلَهُ اللَّهُ فِي عَيْنِ الْعَائِنِ إِذَا تَعَجَّبَ مِنْ شَيْءٍ وَنَطَقَ بِهِ وَلَمْ يُبَارِكْ فِيمَا تَعَجَّبَ مِنْهُ 

“Racun yang Allah menjadikannya di mata orang yang melihat apabila dia takjub dari sesuatu dan dia mengucapkannya (ungkapan ketakjuban), sedangkan dia tidak memintakan keberkahan untuk apa yang membuatnya takjub darinya.” 

Dari dua definisi di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ia adalah penyakit yang disebabkan oleh pandangan takjub, dan bisa disertai hasad. Pandangan takjub tersebut diungkapkan dengan kata-kata, tetapi tidak dimintakan keberkahan.

Jadi, dari definisi di atas dapat kita pahami bahwa penyakit ini tidak hanya muncul dari musuh atau orang yang membenci kita. Lebih dari itu, penyakit ini bisa muncul justru dari orang yang cinta dengan kita.

Apakah Ain Hanya Disebabkan oleh Mata Jahat?

Penyakit ini tidak disebabkan oleh mata saja. Intinya adalah hati yang takjub. Bisa dengan penglihatan, atau bisa juga dengan pendengaran saja.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dan pengaruh pelaku ain tidak berhenti pada melihat saja. Bahkan ada orang yang buta, ketika diceritakan kepadanya sesuatu, maka dirinya memberi pengaruh pada sesuatu tersebut, meskipun dia tidak melihatnya. Dan banyak dari pelaku ain yang memberi pengaruh pada korban ain hanya dengan cerita, tanpa melihat secara langsung.” [Zadul Ma’ad 4/154]

Bahaya Penyakit Ain 

Meski terdengar tidak masuk akal dan tidak nyata, namun penyakit yang disebabkan oleh pandangan mata benar-benar bisa terjadi dengan izin Allah azza wa jalla.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ 

“Penyakit ain itu nyata (terjadi) .” [Muttafaqun ‘alaih]

Dalam riwayat yang lain beliau juga bersabda: 

الْعَيْنُ تُدْخِل الرَّجُل الْقَبْرَ وَالْجَمَل الْقِدْرَ 

“Pandangan mata itu memasukkan seseorang ke dalam kubur dan (memasukkan) unta ke dalam periuk.” [Shahihul Jami’ h. 4144]

Banyak contoh terkait penyakit ini yang bisa kita dapatkan. Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah hampir terkena olehnya. Allah taala berkalam:

وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ 

“Dan hampir-hampir orang-orang kafir itu mereka sungguh menggelincirkanmu dengan pandangan-pandangan mereka.” [Qs. Al-Qalam : 51] 

Mufassirin seperti Imam Al-Qurthubi menjelaskan ayat ini bahwa orang-orang kafir Quraisy berniat mencelakai Nabi dengan menggunakan pandangan.

Ketika Nabi lewat di depan mereka, mereka memuji-muji beliau. Akan tetapi upaya jahat itu tidak berhasil karena Allah melindungi beliau. [Tafsir Al-Qurthubi untuk ayat ini 18/255]

Siapa yang Rentan Terkena Ain?

Pada asalnya, setiap orang memiliki kemungkinan terkena penyakit seperti ini. Sama saja itu bayi, anak-anak kecil, remaja, dan orang dewasa.

Hanya saja, karena penyakit ini berkaitan dengan pandangan, tentu orang yang paling rentan terkena penyakit ini adalah orang yang menjadi pusat perhatian.

Bisa jadi anak-anak yang lucu, seorang tokoh, dan lain-lain. Bahkan hewan dan benda bisa terkena ain pula.

Ciri-Ciri Gejala Ain

Beberapa tanda yang dapat kita jadikan sebagai tambahan pengetahuan bahwa seseorang terkena ain adalah sebagai berikut:

1. Tubuh Anak Kurus Kering Padahal Tidak Kelaparan.

Pernah, suatu kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Asma binti Umais, “Kenapakah saya lihat tubuh anak-anak saudaraku kurus kering? Apakah mereka kelaparan?”

Maka dia menjawab, “Tidak, akan tetapi penyakit ain telah mengenai mereka. Beliau bersabda, “Ruqyahlah mereka.” [Hr. Muslim]

2. Wajah Kekuning-Kuningan dan Tirus

Dari Ummu Salamah radliyallahu ‘anha, bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat di rumahnya ada seorang anak perempuan yang wajahnya kekuning-kuningan dan tirus. Maka beliau bersabda, “Ruqyahlah dia, karena dia terkena ain.” [Hr. Al-Bukhari]

Dua hal di atas adalah contoh tanda seseorang terkena ain. Tanda yang lain adalah kejang-kejang tanpa sebab, bayi yang menangis terus menerus, dan lain sebagainya.

Intinya, ketika terjadi sesuatu yang tidak beres terhadap seseorang, hewan, atau barang, bisa jadi dia terkena ain.

Mencegah Terkena Ain

Sebagaimana telah kita ketahui, mencegah lebih baik daripada mengobati. Supaya kita tidak terkena penyakit ini, lebih baik kita ketahui terlebih dahulu cara pencegahannya.

1. Tidak Menampak-Nampakkan Kenikmatan Pribadi

Bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah memang diperintahkan. Menampakkannya secara wajar juga diperintahkan sebagaimana dalam surat Adl-Dluha ayat terakhir. Adapun yang dilarang adalah berusaha menampak-nampakkan kenikmatan dengan tujuan agar mendapat pujian dari orang lain.

Upload atau memajang foto di medsos (sosial media) tidak perlu dilakukan ketika tidak terlalu penting, karena ain bisa melalui gambar foto dan video.

2.  Mendoakan Keberkahan

Siapa yang tidak gemes ketika melihat seorang bayi yang imut, hehe 🙂 Namun, hati-hati karena ketakjuban kita bisa berakibat ain pada bayi tersebut.

Membaca doa keberkahan ini dilakukan oleh seseorang yang takjub kepada apa yang dia lihat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Sahl bin Hunaif terkena ain yang dilakukan oleh ‘Amir bin Rabiah.

Ketika kejadian ini diadukan kepada Rasulullah, beliau marah kemudian bersabda:

عَلاَمَ يَقْتُل أَحَدُكُمْ أَخَاهُ ؟ أَلاَّ بَرَّكْتَ

“Atas apa seseorang dari kalian membunuh saudaranya? Tidakkah engkau doakan keberkahan (untuknya)?” [Hr. Ibnu Hibban]

3. Berlindung kepada Allah

Ketika mendoakan keberkahan dilakukan oleh orang yang memandang, maka berlindung dilakukan oleh orang yang dipandang.

Banyak orang yang menggunakan azimat sebagai perlindungan. Hal ini salah karena merupakan kesyirikan.

Bacalah doa berikut supaya anda terhindar dari penyakit ini:

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

“Aku berlindung dengan kalimah-kalimah Allah yang sempurna dari setiap setan dan binatang-binatang beracun, dan dari setiap mata yang mencela.”

Adapun untuk mendoakan orang lain, maka kalimat أعوذ diganti dengan أُعِيْذُكَ / أُعِيْذُكِ (Aku memintakan perlindungan kepadamu (laki-laki) / aku memintakan perlindungan kepadamu (perempuan)).

Dalil doa ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya.

Cara Mengobati Ain

Ketika seseorang sudah terlanjur menderita penyakit ini maka beginilah cara pengobatannya. Penyakit ini bukan penyakit medis, sehingga tidak akan bisa anda bawa ke dokter.

Ada 3 cara yang bisa digunakan untuk mengobati orang yang terkena penyakit ini. Berikut ini kita bahas:

1. Mandi

Mandi ini wajib dilakukan oleh pelaku ain yang kemudian airnya diguyurkan kepada korbannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعَيْنُ حَقٌّ ، وَلَوْ كَانَ شَيْءٌ سَابَقَ الْقَدَرَ لَسَبَقَتْهُ الْعَيْنُ ، وَإِذَا اسْتُغْسِلْتُمْ فَاغْسِلُوا

“Penyakit ain itu nyata (terjadi). Dan kalaulah ada sesuatu yang mendahului qadar, maka sungguh ain pasti mendahuluinya. Dan apabila kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.” [Hr. Muslim]

Caranya adalah dengan membasuh wajah, 2 tangan, 2 siku, 2 lutut, ujung-ujung 2 kaki, dan dalam sarungnya, kemudian air bekas basuhan itu diguyurkan  kepada korban.

2. Ruqyah Ain

Banyak dari kita beranggapan bahwa ketika berbicara tentang ruqyah, maka hal itu berkaitan dengan kesurupan. Memang hal itu benar, tetapi tidak terbatas padanya saja.

Ruqyah artinya adalah mengobati. Ruqyah juga disyariatkan untuk mengobati orang yang terkena ain. Aisyah berkata:

أَمَرَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ أَمَرَ أَنْ يُسْتَرْقَى مِنَ الْعَيْنِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahku atau beliau telah memerintah untuk dilakukan ruqyah bagi penderita ain.” [Hr. Al-Bukhari]

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ruqyah ain ini hanya dilakukan apabila pelakunya tidak diketahui. Ketika pelaku ain diketahui, maka pelaku itu diminta untuk  mandi kemudian airnya diguyurkan kepada korban.  [Bada`i’ul Fawaid 2/246]

Ketika meruqyah korban, jangan melupakan adab berdoa agar Allah menurunkan pertolongannya.

Wallahu a’lam.

Semoga Allah menghindarkan kita dari penyakit ain. Wal-akhir, semoga bermanfaat.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Tebar kebaikan yuk dengan share tulisan ini!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.