Hukum Puasa Ayyamul Bidh Tanggal 13 di Hari Tasyrik

Puasa ayyamul bidh – adalah seperti puasa Asyura, senin kamis, dan lainnya. Yaitu termasuk dari puasa-puasa sunnah yang ada dalam Islam. Namun, ternyata kadang puasa ini bertepatan dengan hari Tasyrik.

Lalu apa hukum puasa ayyamul bidh di hari tasyrik? Bolehkah kita berpuasa?

Apa itu Ayyamul Bidh?

Ayyamul bidh adalah berasal dari bahasa Arab أيام البيض yang artinya adalah hari-hari putih.

Adapun maksud dari puasa ayyamul bidh adalah puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 dari setiap bulan. Tentunya menurut tanggalan Qamariyah atau Hijriyah.

Perintah puasa Ayyamul Bidh dan Keutamaannya

Imam Al-Bukhari dalam kitab shahihnya memuat satu bab berjudul ‘Bab Ayyamul Bidh: Tanggal 13, 14, dan 15’ kemudian menyebutkan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ: «صِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَرَكْعَتَيِ الضُّحَى، وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَنَامَ»

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, dia berkata: Kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan 3 hal: puasa 3 hari dari setiap bulan, 2 rakaat dluha, dan supaya aku melakukan witir sebelum tidur. [Hr. Al-Bukhari]

Abu Dawud meriwayatkan hadits lain yang lebih jelas sebagai berikut:

عَنْ ابْنِ مِلْحَانَ الْقَيْسِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ، قَالَ: وَقَالَ «هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ»

Dari Ibnu Milhan Al-Qaisiy, dari bapaknya, dia berkata: Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintah kami untuk berpuasa bidh; tigabelas, empatbelas, dan limabelas. Dia berkata: Beliau bersabda: “Keadaan mereka adalah bagaikan satu tahun penuh”. [Hr. Abu Dawud]

Larangan Puasa pada Hari-Hari Tasyrik

Dari Nubaisyah Al-Hudzali, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ»

“Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan dan minum.” [Hr. Muslim] dalam riwayat lain disebutkan, “dan dzikir kepada Allah.”

Imam Muslim memuat hadits tersebut dalam Bab Haramnya Puasa Puasa Hari-Hari Tasyrik.

Mengenai pengamalan hadits ini, terdapat riwayat dari para sahabat:

عَنْ أَبِي مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ، أنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن العَاصِ، عَلَى أَبِيهِ عَمْرو بْن العَاصِ، فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ عَمْرو: كُلْ فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُفْطِرهَا، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا. قَالَ مالك: وهي أيَّام التشريق.

Dari Abu Murrah bekas budaknya Ummu Hani, bahwasanya dia berkunjung bersama Abdullah bin Amr bin Ash ke rumah bapaknya yaitu Amr bin Ash. Maka dia (Amr bin Ash) menghidangkan makanan untuk keduanya, lalu berkata: Makanlah. Maka dia berkata: Sesungguhnya aku sedang puasa. Maka Amr berkata: Makanlah. Sesungguhnya ini adalah hari-hari yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintah kami untuk berbuka padanya dan melarang kami dari berpuasa. Malik berkata: Dia adalah hari-hari tasyrik. [Hr. Malik dalam Al-Muwaththa]

Abdullah bin ‘Umar radliyallahu anhu berkata:

لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الهَدْيَ»

Beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) tidak memberi rukhshah (keringanan) di hari-hari tasyrik untuk berpuasa, kecuali bagi orang yang tidak mendapati binatang hadyu. [Hr. Al-Bukhari]

Baca juga: Doa Buka Puasa Sesuai Sunnah

Kesimpulan

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa ada keutamaan puasa ayyamul bidh karena diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun demikian, puasa ini tidak boleh dilakukan di hari-hari tasyrik karena terdapat larangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Solusinya, bila anda tetap ingin berpuasa, tetaplah berpuasa ayyamul bidh sesuai tanggal untuk tanggal 14 dan 15-nya. Adapun untuk tanggal 13-nya, gantilah dengan tanggal yang lain. Bisa tanggal 16, 17, 18, dan seterusnya. Meskipun tatacara puasa ini tidak berurutan, tetapi tetap diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صُمْ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ، فَذَلِكَ صَوْمُ الدَّهْرِ، أَوْ كَصَوْمِ الدَّهْرِ

“Berpuasalah dari setiap bulan itu tiga hari, maka itu adalah puasa setahun penuh, atau bagaikan puasa setahun penuh.” [Hr. Al-Bukhari]

Ibnu Baththal menyebutkan perkataan Ath-Thabari sebagai berikut:

وأن لمن أراد من أمته صوم ثلاثة أيام من كل شهر تخير ما أحب من أيام الشهر،

“Dan bahwasanya bagi siapapun dari umatnya yang ingin puasa 3 hari dari setiap bulan, maka dia boleh memilih hari yang dia sukai dari hari-hari bulan itu.” [Syarhu Shahihil Bukhari libni Baththal, 4/126]

Demikianlah hukum puasa ayyamul bidh di hari tasyrik, wallahu a’lam. Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.


Solo, 12 Dzulhijjah 1440 (13 Agustus 2019)

Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage: Mutiara Dakwah.

Artikel : Al-Fikry.com

2 Comments

  1. DALMOELYADI
    • Zain Al-Fikry

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.