Arti Sehat Walafiat

Salah satu doa yang selalu kita lantunkan sebagai doa sehari-hari adalah meminta untuk selalu dijadikan sehat walafiat dan panjang umur. Namun, banyak dari kita yang belum mengetahui apa sebenarnya makna dari apa yang kita minta ini.

Sehat Walafiat Artinya Apa?

Sehat wal afiat adalah kata yang berasal dari bahasa Arab الصحة و العافية .

Sehat adalah lawan kata dari sakit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), artinya adalah baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit).

Adapun afiat atau al afiyah, dalam kamus itu dia diartikan juga sebagai sehat. Saya tidak setuju karena kalau nanti kita meletakkannya dalam kalimat sehat wal afiat, akan terjadi pengulangan kata.

Mengenai maknanya, dalam Islam terdapat pengertiannya sendiri. Syaikh Al Mubarakfuri menjelaskan bahwa maksud al afiyah adalah selamatnya agama dari fitnah dan selamatnya badan dari penyakit. [Tuhfatul Ahwadzi 10/3]

Oleh karena itu, bisa ditarik kesimpulan bahwa orang yang sehat wal afiat adalah orang yang memiliki tubuh kuat, terlindung dari segala macam penyakit, dan staminanya segar bugar. Selain itu, dia juga mudah dan tidak malas untuk beribadah kepada Allah serta melakukan banyak kebaikan sesuai dengan tujuan dia diciptakan di dunia.

Dalam percakapan sehari-hari, kalimat ini bisa berubah bentuknya menyesuaikan konteks dan bahasa daerah dimana dia diucapkan. Contoh misalnya dalam bahasa sunda, kita bisa mengatakan Mugi sehat sareng panjang yuswa Abah. Adapun dalam bahasa jawa, dia biasa diungkapkan dengan kalimat bagas waras atau wilujeng sehat.

Gambar Tulisan Sehat Walafiat Bahasa Arab

tulisan sehat walafiat bahasa arab

Gambar Tulisan Sehat Wal Afiat Penulisan Bahasa Arab

Maksud dari Nikmat Sehat

Pernahkah terpikir dalam benak anda, mengapa Allah memberikan kesehatan kepada kita? Atau jangan-jangan, kita tidak pernah memikirkannya?

Di antara sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, ada 2 nikmat yang sangat perlu kita perhatikan. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Ada 2 nikmat yang banyak dari manusia tertipu pada keduanya (yaitu): Kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” [Hr. Al Bukhari]

1. Kesehatan

Banyak manusia yang diberikan kesehatan oleh Allah, tetapi dia tertipu dengan pemberian ini. Pemberian yang sebenarnya ditujukan agar dia dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan taat, tetapi dia justru semakin menjauh dengan maksiat.

Padahal, betapa banyak saudara kita yang sebenarnya ingin melakukan banyak amal ketaatan, tetapi mereka tertahan karena kondisi kesehatannya.

Orang yang diberi sehat tetapi tidak mampu memanfaatkannya untuk amal kebaikan, niscaya akan menyesal apabila Allah cabut kesehatan itu darinya. Ia akan lebih menyesal lagi apabila Allah telah cabut nyawa dari badannya.

Jika kita kembali kepada pokok pembahasan kita, orang-orang yang seperti ini adalah mereka yang mendapatkan nikmat sehat, tetapi tidak mendapatkan afiat.

Badannya memang segar bugar. Dia tidak sakit. Bahkan untuk beraktifitas terasa lancar. Akan tetapi, agamanya terkena fitnah sehingga dia jauh dari melakukan kebaikan, naudzu billahi min dzalik.

2. Kesempatan (Waktu Luang)

Waktu akan terus berputar dan yang lewat tidak akan bisa terulang lagi. Meski sudah mengetahui hal ini, masih banyak orang yang belum benar-benar bisa memahaminya.

Berapa banyak orang yang Allah berikan nikmat kepada mereka berupa waktu luang, tetapi mereka menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bahkan cenderung memberi mudarat dunia dan akhirat?

Sungguh, orang-orang yang berbuat demikian, suka menghabiskan waktu luang untuk hal yang sia-sia, niscaya mereka akan menyesal nantinya di hari kiamat.

Allah taala berkalam:

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Hingga ketika kematian telah datang kepada salah satu dari mereka, dia berkata: Wahai Pemeliharaku, kembalikanlah aku (ke dunia) (_) Agar aku bisa berbuat keshalihan yang telah aku tinggalkan.” [Qs. Al-Mukminun (23) : 99-100]

Maka sebagai penutup, marilah wahai saudaraku pembaca, kita perhatikan diri kita masing-masing. Marilah kita gunakan kesehatan sehat walafiat dan kesempatan yang telah diberikan oleh Allah ini untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Tinggalkan Balasan