Syarat Haji dalam Islam Beserta Penjelasannya

Syarat Wajib Ibadah Haji – Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima. Sebagaimana ibadah yang lain, ia memiliki syarat dan ketentuan yang harus ditunaikan agar menjadi sah.

Syarat Wajib Haji dalam Islam

Keabsahan haji seseorang tergantung pada beberapa hal berikut ini:

1. Islam

Ibadah haji menjadi sah dan insya Allah mabrur atau diterima oleh Allah hanya bila dilakukan oleh orang yang beragama Islam. Sebab, seperti yang sudah lazim kita ketahui bahwa dasar diterimanya suatu amalan adalah iman dan taqwa kepada Allah azza wa jalla.

Artinya, ketika orang kafir melakukan haji, maka itu tidaklah sah dan tidak akan diterima oleh Allah karena tidak ada ketaqwaan dalam hatinya.

Bahkan, orang kafir haram hukumnya memasuki Masjidil Haram, sebagaimana Allah jelaskan dalam al quran:

“Sesungguhnya tiada lain orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun mereka ini.” [Qs. At-Taubah (9) : 30]

2. Sehat Akal

Orang gila tidak memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah. Dan bila dia melakukannya, maka ibadah yang dia lakukan tidaklah sah.

Dalil gugurnya kewajiban melakukan ibadah bagi orang gila adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radliyallahu anha. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Diangkat pena itu (kewajiban) dari 3 orang: (1) dari orang yang tidur hingga dia bangun, (2) dari orang yang gila sampai dia sembuh, dan (3) dari seorang bayi sampai di menjadi baligh.” [Hr. Abu Dawud]

3. Baligh

Ibadah yang dilakukan oleh seorang anak kecil tidaklah diterima oleh Allah karena dia belum memiliki kewajiban untuk beribadah. Tidak adanya kewajiban ibadah ini dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits yang telah penulis sebutkan di atas.

Imam At-Tirmidzi juga menjelaskan bahwa ketika seorang anak kecil melakukan ibadah haji sebelum baligh dan berakal, maka dia wajib untuk mengulangnya ketika dia sudah akil baligh dan sehat akal. Hal ini karena hajinya yang pertama belum memenuhi ketentuan wajib haji. Beliau menerangkan bahwa ulama telah bersepakat atas hal ini.

Hanya saja, ketika seorang anak kecil dihajikan oleh walinya, maka hajinya sah dan walinya mendapat pahala. Sebagaimana dalam hadits disebutkan bahwa ada seorang wanita yang mengangkat bayinya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan bertanya, “Apakah boleh baginya untuk haji?”

Beliau menjawab, “Ya, dan bagimu ada pahala.” [Hr. Muslim]

4. Berstatus Merdeka

Seorang budak tidak memiliki kewajiban untuk melakukan haji karena dia harus berkhidmat kepada tuannya. Hanya saja, ketika dia melakukannya, maka ibadah tersebut sah dan diperbolehkan.

Namun, ketika dia telah menjadi seorang yang merdeka, dia harus mengulang hajinya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Dan budak mana saja yang melakukan ibadah haji kemudian dirinya dimerdekakan, maka wajib bagi dirinya untuk melakukan haji kembali.” [Hr. Ibnu Khuzaimah]

5. Memiliki Kemampuan

Ketentuan ini merujuk kepada dalil tentang wajibnya ibadah haji itu sendiri. Allah taala berkalam:

“Allah memiliki hak atas (yang harus ditunaikan) manusia (berupa) haji ke al-bayt (ka’bah), yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan kepadanya.” [Qs. Ali Imran (3) : 97]

Ulama memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan kemampuan di sini adalah memiliki bekal, kendaraan, dan cadangan untuk kebutuhan-kebutuhan pokok sampai dia pulang dari hajinya.

Syarat Tambahan Bagi Perempuan

Selain 5 syarat di atas, bagi wanita ada syarat lain yang khusus. Syarat itu adalah keharusan didampingi oleh mahram saat dia melakukan perjalanan.

Pernah ada seorang sahabat bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hendak berangkat bersama pasukan ini dan itu, sedang istriku ingin berhaji?

Mendengar hal itu, beliau beliau mengatakan: “Keluarlah, pergi bersama istrimu”. [Hr. Al-Bukhari]

Bagi anda yang masih bingung siapa mahramnya, baca artikel kami sebelumnya mengenai penjelasan tentang mahram.

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan tentang syarat wajib haji yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi wasilah agar haji yang anda lakukan menjadi haji mabrur, sah, dan diterima oleh Allah, amin.

Wabillahit taufiq.

Barangkali anda juga ingin membaca artikel ini. (baca: bacaan minum air zam zam)


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.