Breaking News

Tanda-tanda Bahwa AS Bisa Memasuki Jurang Resesi

Amerika Serikat (AS) kini berada di ambang resesi. Dengan pasar saham yang bergejolak, inflasi yang melonjak, dan kenaikan suku bunga, orang Amerika pesimis tentang ekonomi negara itu.

Daya beli konsumen berada pada titik terendah sepanjang masa, menurut survei University of Michigan yang dikutip oleh CNN. Karena banyak orang yang terdesak oleh harga yang mahal.

CPI mencapai level tertinggi dalam 40 tahun. Inflasi tercatat sebesar 8,6% selama 12 bulan terakhir dan The Fed kini gencar menaikkan suku bunga dan dampaknya bisa meredam aktivitas ekonomi.

Harga logam juga mencapai level terendah dalam dua minggu terakhir dan turun 11%. Saat ini, tembaga banyak digunakan sebagai bahan baku konstruksi.

Invasi Rusia ke Ukraina juga berkontribusi pada kenaikan harga tembaga dunia. Daniel Ghali, Direktur Strategi Komoditas TD Securities, mengatakan harga baru-baru ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

S&P Global kemudian merilis indeks komoditas non-esensial, yang melihat pesanan turun karena konsumen dikejutkan oleh kenaikan harga yang tajam.

Harga bensin naik gila-gilaan. Kondisi ini juga mempengaruhi kebutuhan masyarakat. Sektor perumahan juga mengalami penurunan, khususnya skema KPR yang dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga bank sentral.

Perusahaan pengembang perumahan juga terkena imbasnya. Saham real estate turun 45% tahun ini. Pengembang menyadari situasi ekonomi yang sulit saat ini. Meskipun terjadi penurunan di sektor perumahan, kami berharap hal itu tidak mempengaruhi sektor lain seperti yang terjadi pada tahun 2008.

Michael Sheldon, kepala investasi di RDM Financial Group, mengatakan situasi perbankan saat ini jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Perbankan kini lebih selektif dalam menyalurkan kredit. “Bank tidak memberikan pinjaman kepada orang-orang dengan kredit macet atau kredit macet. Jika ada resesi, dampaknya pada sektor perumahan akan berkurang dan pengalaman tidak akan seperti dulu, “katanya.