Tatacara Mandi Wajib / Junub dan Sebabnya

Tatacara mandi wajib – Dalam masalah fiqih thaharah, telah diketahui bahwa hadas terbagi menjadi 2, yaitu hadas kecil dan hadas besar. Cara menghilangkan kedua hadas ini pun berbeda.

Hadas kecil dapat dihilangkan dengan air wudlu. Sedangkan hadas besar tidak dapat dihilangkan kecuali dengan mandi wajib.

Pengertian

Mandi dalam bahasa Arab disebut dengan الغسل (Al-Ghuslu). Secara bahasa, artinya adalah bersuci. Adapun secara istilah, al-ghuslu adalah:

اسْتِعْمَال مَاءٍ طَهُورٍ فِي جَمِيعِ الْبَدَنِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ بِشُرُوطٍ وَأَرْكَانٍ

“Menggunakan air yang suci di seluruh badan dengan cara khusus disertai syarat-syarat dan rukun-rukun.” [Kasysyaful Qina’ 1/24]

Dalam fiqih Islam, mandi memiliki 2 hukum, yaitu sunnah dan wajib.

Mandi yang sunnah contohnya adalah mandi sebelum shalat idul fitri. Masalah ini telah kita bahas. (baca: sunnah idul fitri)

Adapun dalam artikel yang sekarang anda baca, kita akan membahas yang hukumnya wajib.

Sebab-Sebab Mandi Wajib

Ulama menyebutkan bahwa ada 4 hal yang menjadi penyebab seseorang harus melakukan mandi yang diwajibkan ini. Hal-hal tersebut adalah:

1. Keluarnya Mani

Wajibnya mandi karena keluarnya mani adalah berdasarkan hadits. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

“Sesungguhnya adanya air itu karena adanya air.” [Hr. Muslim]

2. Bertemunya 2 Kemaluan

Ketika suami istri melakukan hubungan intim, maka telah wajiblah mandi atas mereka. Sama saja mengeluarkan mani ataupun tidak. Nah, inilah yang perlu diketahui oleh pengantin baru sebagai adab malam pertama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَْرْبَعِ، ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْل

“Apabila dia telah duduk di antara cabangnya yang empat, kemudian bersungguh-sungguh padanya, maka sungguh mandi telah wajib.”

3. Haid dan Nifas

Mandi ini juga dilakukan oleh wanita setelah haid dan nifas.

Dalam surat Al-Baqarah, Allah ta’ala berkalam berkaitan dengan wanita yang sedang mengalami haid:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُل هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sampai mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” [Al-Baqarah : 222]

Adapun nifas dihukumi sama dengan haidh berdasarkan kesepakatan ulama.

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adapun hukum masalah ini, ulama sepakat atas wajibnya mandi karena sebab haidh dan nifas.” [Al-Majmu’ 2/148]

4. Islamnya Orang Kafir

Seorang kafir yang masuk Islam wajib mandi.

Kewajiban ini berdasarkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ قَيْسِ بْنِ عَاصِمٍ، أَنَّهُ أَسْلَمَ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ

“Dari Qais bin ‘Ashim, bahwasanya dia masuk Islam. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (bidara).” [Hr. At-Tirmidzi]

Tatacara Mandi Wajib

Hakikat mandi junub adalah mengalirkan air ke seluruh tubuh.

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitab Al-Umm setelah mengutip surat An-Nisa’ ayat 43 berkata:

فَكَانَ فَرْضُ اللَّهِ الْغُسْلَ مُطْلَقًا لَمْ يَذْكُرْ فِيهِ شَيْئًا يَبْدَأُ بِهِ قَبْلَ شَيْءٍ فَإِذَا جَاءَ الْمُغْتَسِلُ بِالْغُسْلِ أَجْزَأَهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Maka adalah yang diwajibkan oleh Allah itu mandi secara mutlak. Dia tidak menyebutkan padanya sesuatu yang orang harus memulai dengannya sebelum (melakukan) sesuatu. Maka, apabila orang yang mandi telah datang dengan (sesuatu yang disebut) mandi, maka itu telah mencukupinya, wallahu a’lam.” [Al-Umm 1/56]

Meskipun demikian, ada baiknya apabila kita melakukan tatacara mandi wajib dengan sunah-sunahnya sebagai berikut:

Sunnah-Sunnah Mandi Junub

Berikut ini adalah tatacara mandi janabah dengan baik dan benar sesuai sunnah:

1. Niat

Niat dalam sebuah perbuatan sangat penting. Hal inilah yang menjadi pembeda antara kebiasaan dan ibadah.

Dalam sebuah hadits yang sudah masyhur, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya tiada lain suatu perbuatan itu tergantung niatnya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Namun, niat merupakan amalan hati sehingga tidak perlu dilafalkan. Tidak ada doa mandi wajib khusus yang harus kita baca. Cukup kita berniat mandi untuk membersihkan hadats besar dari tubuh kita.

2. Mengambil air dengan tangan kanan, lalu dituangkan ke atas tangan kiri untuk membasuh kemaluan.

3. Berwudlu seperti biasa.

Ulama berbeda pendapat mengenai basuhan terakhir pada kaki. Sebagian mengatakan bahwa itu dilakukan sebelum mandi seperti biasa. Namun, sebagian mengatakan bahwa itu dilakukan setelah mandi seperti biasa. ‘Ala kulli haal, 2 pendapat ini sama-sama memiliki dasar, yaitu riwayat dari Maimunah dan ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma yang akan kita bahas.

4. Menuangkan air ke atas kepala dengan menyela-nyelainya.

5. Mandi seperti biasa.

Dalil dari amalan tersebut adalah riwayat dari Maimunah dan ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma. RIwayat keduanya adalah shahih menurut Al-Bukhari sebagai berikut:

Hadits ‘Aisyah radliyallahu ‘anha:

عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ المَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

“Dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mandi dari sebab junub, beliau memulai dengan membasuh 2 tangan. Kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat. Memasukkan jari-jari ke dalam air, lalu menyela-nyelai pangkal rambut beliau. Kemudian mengguyurkan (air) ke atas kepala beliau 3 cawukan dengan 2 tangan. Kemudian mengguyurkan air ke seluruh kulit beliau semua.”

Hadits Maimunah radliyallahu ‘anha:

عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُضُوءهُ لِلصَّلاَةِ، غَيْرَ رِجْلَيْهِ، وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَيْهِ المَاءَ، ثُمَّ نَحَّى رِجْلَيْهِ، فَغَسَلَهُمَا، هَذِهِ غُسْلُهُ مِنَ الجَنَابَةِ

“Dari Maimunah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudlu seperti wudlu beliau untuk shalat selain 2 kaki. Beliau membasuh kemaluan dan apa yang mengenainya dari kotoran. Kemudian beliau mengguyurkan air ke badan beliau. Kemudian memindahkan 2 kaki beliau, lalu membasuh keduanya. Inilah cara mandi beliau karena janabah.”

Cara mandi junub bagi wanita yang haid sama halnya dengan cara mandi junub bagi lelaki.

Demikian tatacara mandi wajib sesuai sunnah, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.