17 Perkara yang Membatalkan Shalat [LENGKAP]

Hal-Hal yang Membatalkan Shalat – Shalat adalah tiang agama sebagaimana telah disebutkan dalam hadits yang shahih. Oleh karenanya, sebagai seorang muslim kita wajib mengetahui tatacara mengerjakan shalat dengan baik dan benar sesuai ajaran nabi shallallahu alaihi wa sallam. Semua itu adalah supaya shalat yang kita kerjakan tidaklah sia-sia.

Aspek yang harus kita ketahui dari shalat adalah meliputi syarat shalat, rukun sholat, waktu shalat, dan hal-hal yang membatalkan shalat. Dalam artikel ini, yang akan kita bahas adalah pembatal-pembatal shalat.

Seseorang akan batal dari shalatnya apabila melakukan perkara-perkara berikut ini.

Penjelasan tentang Apa yang Membatalkan Shalat

Sholat tidak sah apabila anda melakukan perbuatan yang membatalkan shalat. Tidak seperti halnya ketika anda lupa rukun shalat, yang anda bisa hanya melaksanakan sujud sahwi di akhir shalat. Tetapi, hal-hal yang membatalkan shalat ini mengharuskan anda untuk mengulang shalat.

1. Hadats. Hadats adalah sesuatu yang keluar dari kemaluan dan dubur. Apabila seseorang yang shalat telah memastikan bahwa dirinya hadats, maka shalatnya batal. Sebab kesucian adalah syarat sahnya shalat. Contoh hadats adalah kentut, kencing, dan lain sebagainya.

2. Tertawa terbahak-bahak. Perkara ini membatalkan shalat menurut ijma (kesepakatan) para ulama karena serupa dengan bicara. Selain itu karena dalam hal ini mengandung perbuatan meremehkan shalat dan bermain-main yang tidak sesuai dengan maksud shalat.

Ibnu Taimiyyah pernah ditanya, “Ada seseorang yang tertawa dalam shalat. Apakah shalatnya batal?” Maka beliau menjawab:

“Adapun tersenyum, maka tidak membatalkan shalat. Namun, apabila terbahak-bahak dalam shalat, maka ia batal. Dan tidaklah wudlunya rusak menurut jumhur seperti Malik, Syafi’i, dan Ahmad.

Akan tetapi, disukai baginya untuk wudlu menurut pendapat yang lebih kuat, karena keadaannya telah berbuat satu dosa, dan untuk keluar dari perselisihan. Karena sesungguhnya menurut madzhab Abu Hanifah telah batal wudlunya, wallahu a’lam.” [Al-Fatawal Kubro libni Taimiyyah 2/226-227]

3. Berbicara dengan sengaja. Ketika seseorang berbicara dengan sengaja, padahal itu tidak ada kepentingan dengan shalat, maka shalatnya telah batal. Hal ini merupakan kesepakatan ulama. Sesuai dengan hadits yang datang dari Zaid bin Arqam radliyallahu ‘anhu, dia berkata:

“Dahulu kami berbicara dalam shalat. Seseorang mengajak bicara teman yang ada di sampingnya dalam shalat. Hingga turunlah ayat {Dan berdirilah kalian karena Allah dalam keadaan tunduk} [Al-Baqarah : 238] Maka kami diperintah untuk diam dan dilarang dari berbicara.” [Hr. Muslim]

Selain itu, diriwayatkan juga oleh Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy, dia bercerita: Saya sedang shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika tiba-tiba seseorang dari jamaah bersin.

Maka aku berkata: Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Maka semua jamaah memalingkan pandangan mereka kepadaku. Maka aku berkata: Celaka aku, kenapa kalian? Kenapa kalian melihat kepadaku?

Maka mereka mulai menepuk-nepukkan tangan pada paha-paha mereka. Tatkala aku melihat mereka ingin agar aku diam, aku pun diam.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, demi bapak dan ibuku menjadi tebusannya, tidaklah aku melihat seorang pendidik sebelum ini dan setelahnya yang lebih baik caranya daripada beliau.

Demi Allah! Tidaklah beliau membentak, memukul, ataupun mencelaku. Beliau bersabda, “Sesungguhnya shalat ini tidak pantas padanya sedikitpun dari ucapan manusia. Sesungguhnya ia hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur`an”. [Hr. Muslim]

4. Tidak memakai pembatas, sehingga dilewati oleh wanita yang sudah baligh, keledai, atau anjing di tempat sujudnya. Sama saja ketika berada di masjid atau di rumah. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: “Membatalkan shalat (seseorang) wanita dewasa, keledai, dan anjing.” [Hr. Muslim]

5. Tersingkapnya aurat. Hal ini karena menutup aurat merupakan syarat sahnya shalat. Bagi seorang laki-laki, auratnya adalah dari lutut sampai pusar. Adapun bagi wanita, auratnya adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan.

6. Menghadap ke arah selain kiblat dengan sengaja. Menghadap ke arah kiblat adalah termasuk dari syarat sahnya shalat. Oleh karena itu, orang yang shalatnya menghadap ke arah selain kiblat maka shalatnya batal.

7. Terkena najis. Apabila orang yang shalat terkena najis dan dia tahu, kemudian dia tidak segera menyingkirkannya, maka shalatnya shalat. Sama saja najis mengenai baju, mengenai badan, mengenai tempat sujud, atau mengenai semuanya.

8. Meninggalkan rukun atau syarat sahnya shalat dengan sengaja. Rukun shalat contohnya adalah ruku dan sujud. Meninggalkan rukun atau syarat shalat seperti kesucian dengan sengaja dan tanpa udzur yang syar’i membatalkan shalat.

9. Melakukan banyak gerakan yang tidak termasuk gerakan shalat dan tidak karena darurat.

10. Bersandar tanpa uzur, karena berdiri adalah termasuk syarat sahnya shalat.

11. Sengaja menambah rukun shalat, seperti menambah ruku atau sujud.

12. Sengaja merubah urutan rukun shalat, seperti mendahulukan sujud daripada ruku dan sebagainya.

13. Sengaja mengucapkan salam, sebelum sempurnanya shalat.

14. Berubahnya niat, yaitu seseorang ketika di tengah-tengah shalat, dia berniat untuk batal, maka saat itu pula shalatnya batal.

15. Makan dan Minum. Dalam masalah ini, ulama juga bersepakat bahwa orang yang makan dan minum dengan sengaja, maka shalatnya telah batal.

16. Mendahului imam. Seorang makmum yang gerakan shalatnya mendahului imam bisa menyebabkan shalatnya batal. Maka berhati-hatilah. Supaya lebih aman, bergeraklah setelah imam menyelesaikan aba-aba.

17. Murtad, yaitu artinya keluar dari agama Islam baik dengan ucapan maupun perbuatannya.

Kesimpulan

Setelah membaca artikel ini, selayaknya kita lebih berhati-hati dalam shalat supaya tidak melakukan hal yang membatalkannya.

Demikianlah penjelasan mengenai sesuatu yang membatalkan shalat, wallahu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Wabillahit taufiq.

Sumber: Kitab Al-Fiqhul Muyassar fi Dlou`il Kitabi was Sunnati dengan tambahan.


Oleh: Zain Al-Fikry. Ikuti kami di fanspage Mutiara Dakwah.

Artikel: Al-Fikry.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.